Translate :

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
MOHON MAAF PEMILIK BLOG TIDAK BISA MEMBANTU SEPENUHNYA DALAM INFORMASI YANG SAHABAT BUTUHKAN, JIKA ADA ILMU YANG SALAH SOBAT BISA MEMBERI LINK WEB YANG BENARNYA DI BLOG INI, syukron

Tips dan Triks Blog

  • 1>> Pasang Buku Tamu
  • 2>> Pasang Jadwal Sholat
  • 3>> 10 Tips Meningkatkan Traffic Blog
  • 4>> Membuat Label Animasi/Tag Cloud
  • 5>> Tambah Visitor (Pengunjung) Flag
  • 6>> Pasang Widget Translator
  • 7>> Tambah GoogleFriendConnect
  • 8>> Tambah ChatBox
  • 9>> Menambah Gadget Jumlah Pengunjung
  • 10>> Pasang Halaman Facebook
  • 11>> Pasang Banner Pengunjung Online
  • 12>> Mengetahui Jumlah Pengunjung In The World
  • 13>> Menambah GoogleMaps
  • 14>> Memasang Widget Networked Blog
  • 15>> Memasang Yahoo Messenger
  • 16>> Tips SEO mempercepat terdeteksi
  • 17>> Memasang Gadget Visitor Alexa
  • 18>> Memasang Buku Tamu (2)
  • 19>> Memasang Widget Ramalan Cuaca(2)
  • 20>> Menambah Efek-efek asik
  • 21>> Mempercepat Kinerja Blog
  • 22>> Tips Memunculkan Blog Di Search Engine
  • 23>> Menampilkan Blog di Facebook
  • 24>> Pengertian Baclink
  • 25>> Menambah Feedmap
  • 26>> Cara Meningkatkan Pengujung Blog
  • 27>> Tiga Cara Verifikasi Paypal
  • 28>> Membuat Banner Animasi
  • 29>> Membuat Refresh di Blog
  • 30>> Membuat FansPage Facebook
  • 31>> Cara Daftar Paypal (Free) Gratis
  • 32>> Verifikasi Paypal
  • 33>> Pasang Kabar Berita (News)
  • 34>> Pasang Buku Tamu Tersembunyi+Widget
  • 35>> Cara Cek Kecepatan Website-mu
  • 36>> Cara Cek Kecepatan Loading Website-mu (2)
  • 37>> Cara Membuat Efek Marquee(teks&gambar berjalan)
  • 38>> Apakah Social Bookmark
  • 39>> Membuat Banner Fans by bannerfans.com (2)
  • 40>> Hubungkan Web-mu dengan Messenger Pingbox(2)
  • 41>> Membuat Tombol Hide-Show gadget
  • 42>> Membuat Widget Related Post Thumbnail pada Blog
  • 43>> Fungsi dari SiteMeter/Counter
  • 44>> Cobalah AutoBacklink yang satu ini
  • 45>> Pasang Related Post (Postingan terakhir)
  • 46>> Memasang form post berlangganan via e-mail
  • 47>> Membuat Artikel Terkait
  • 48>> Pasang Statistik Pengunjung Online by Widgeo
  • 49>> 10 Tempat Nongkrong blogger/WP
  • 50>> Apakah Sosial Bookmarking itu?
  • 51>> Pilihan Kode Warna HTML
  • 52>> Menampilkan IP Address Pengunjung Web
  • 53>> Verifikasi Paypal Free
  • 54>> Waspadai E-mail Palsu Paypal
  • 55>> Membuat Tab View Dengan Jquery
  • 56>> SMS Gratis via Facebook.com
  • 57>> Membuat Dropcap di Postingan
  • 58>> Membuat Navigasi Breadcrumb
  • 59>> AUTO BACKLINK Top Margotop
  • 60>> Berapakah Harga Blog Sahabat?
  • 61>> Ada 6 Alasan Traffic Blog Menurun
  • 62>> Ada 324 Backlink in Minuteupdate
  • 63>> Daftarkan Web Sahabat di Engginer ini
  • 64>> Membuat Label Sphere/Label Animasi
  • 65>> Google Dynamic Feed
  • 66>> Link Otomatis Baik tidak ?
  • Tampilkan postingan dengan label Tanya Jawab Seputar Islam with Ahmad Sarwat. Tampilkan semua postingan
    Tampilkan postingan dengan label Tanya Jawab Seputar Islam with Ahmad Sarwat. Tampilkan semua postingan

    Cincin dari perak untuk laki-laki boleh ?



    Sehubungan dengan adanya niatan tuk memakai perhiasan yg dihalalkan bagi Pria, maka langsung mencari hukum dan referensi.Alhamdulillah dapat di dari blog sahabat ini, dan langsung saja di posting di blog, mudah-mudahan menjadi ilmu yang bermanfaat

    Sehubungan dengan adanya beberapa komentar tentang hukum memakai cincin dari perak untuk laki-laki, maka di sini saya perlu untuk kembali menulis tentang masalah ini.

    Benar apa yang dikatakan oleh Mas Robin bahwa diperbolehkan bagi laki-laki untuk memakai cincin yang terbuat dari perak, sekalipun emas dan perak adalah sama-sama perhiasan.

    Semalam saya sempat berdiskusi kembali dengan beberapa kawan dan kembali membuka-buka refensi, terutama kitab-kitab hadits, dan terlebih lagi yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, dan ternyata kesimpulan yang terjadi adalah seperti di atas.P

    Pada mulanya jawaban itu hanya saya dasarkan kepada ingatan saya belaka, tanpa merujuk kepada suatu kitab tertentu sebagaimana kebiasaan saya, karena minimnya waktu untuk nulis di blog ini. Setelah ada waktu sedikit senggang saya kembali buka-buka referensi dan mendapatkan kesimpulan yang terbaik dengan tulisan yang sudah saya postingkan sebelumnya. Dan tulisan ini sekaligus meralat tulisan saya sebelumnya. Posting tersebut tidak saya hapus agar saya sendiri selalu mengingat bahwa saya pernah salah dalam menulis dan menjawab agar saya menjadi lebih hati-hati di masa yang akan datang. Semoga Allah mema’afkan kesalahan saya.

    Ada banyak hadits yang menunjukkan kebolehan bagi orang laki-laki untuk memakai cincin dari perak. Diantaranya sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Ibnu Umar yang terjemahannya demikian :

    rasulullah shallaahu ‘alaihi wasallam membuat cincin yang terbuat dari emas dan mengukir kata “Muhammad” rasulullah padanya. Kemudian para sahabat mengikutinya. Ketika beliau melihat para sahabatnya mengikutinya, maka beliau melemparkannya dan berkata : “Demi Allah aku tidak akan memakainya sama sekali”. Kemudian beliau membuat cincin dari perak dan para sahabat juga membuat cincin dari perak”. Kemudian Ibnu Umar : “Kemudian setelah rasulullah meninggal, maka cincin itu dipakai oleh Abu Baka, Umar dan utsman, sampai pada suatu saat jatuh darinya di Sumur Aris”. (HR Bukhari, V/2202 no. 5528)

    Hadits ini jelas menunjukkan kebolehan memakai cincin dari perak.

    Tetapi ada juga hadits yang diriwayatkan oleh juga Imam Bukhari dari Anas seperti yang disebutkan oleh Mas Robin bahwa Anas pada satu hari melihat Rasulullah shallaahu ‘alaihi wasallam memakai cincin dari perak. Kemudian para sahabat membuat cincin yang terbuat dari perak dan memakainya. Maka rasulullah shallaahu ‘alaihi wasallam membuang cincinnya dan para sahabat juga membuang cincin mereka (HR Bukhari, V/2203, no. 5530)

    Menanggapi dua buah hadits yang dhahirnya bertentangan itu, para ulama memiliki pandapat yang bermacam-macam. Ibnu hajar dalam syarah Bukhari menyebutkan paling tidak ada tiga buah pendapat :

    bahwa Rasulullah shallaahu ‘alaihi wasallam membuat cincin dengan warna tertentu, karena beliau tidak ingin orang lain menirunya. Ketika para sahabat menirunya, maka beliau membuangnya. Nah, ketika beliau menginginkan untuk membuat cincin yang akan digunakan sebagai stempel surat yang beliau kirimkan kepada raja-raja atau negara yang lain, maka beliau membuat cincin dari perak dan memakainya.
    bahwa Rasulullah memakai cincin emas itu untuk perhiasan dan kemudian diikuti oleh para sahabat yang lainnya. Kemudian karena akhirnya emas diharamkan, maka beliau membuangnya. Dan kemudian karena kebutuhan untuk membuat stempel, maka beliau membuat setempel yang terbuat dari perak dan tidak untuk dipakai di tangan.
    pendapat yang ketiga mentarjih hadits yang pertama yang menjelaskan bahwa boleh bagi laki-laki untuk memakai cincin dari perak. Dan mereka menyatakan bahwa haidits dari Anas itu diriwayatkan oleh Imam Az Zuhri dan ini merupakan kesalahan dari dia, Az Zuhri itukarena riwayatnya berbeda dengan riwayat-riwayat yang masyhur yang lainnya.

    Kemudian Ibnu hajar menyebutkan pendapat yang keempat, yaitu bahwa pada mulanya Rasulullah shallaahu ‘alaihi wasallam membuat cincin dari emas untuk poerhiasan kemudian diikuti oleh para sahabat. Kemudian cincin dari emas diharamkan dipakai oleh laki-laki, karena itu beliau melemparnya dan mengatakan saya tidak akan memakainya selamanaya. Kemudian beliau mengambil cincin dari perak dengan mengukir namanya yang mulia pada cincin itu, untuk tujuan sebagai stempel. Kemudian hal ini juga diikuti oleh para sahabat yang lain. Akhirnya rasulullah shallaahu ‘alaihi wasallam lagi memiliki setempel khsusus, karena para sahabat juga memiliki stempel yang sama. Karena itulah beliau membuangnya, seperti yang disebutkan oleh Hadits Anas. Kemudian ketika para sahabat membuang cincin-cincin perak mereka, dan kebutuhan Rasulullah shallaahu ‘alaihi wasallam terhadap masih ada, maka beliau mengambil kembali cincin perak itu dan menggunakannya sebagai setempel.

    Nah kesimpulan dari jumhur ulama adalah mereka lebih cenderung menyatakan bahwa hadits Ibnu Umar lebih masyhur dari pada hadits Anas dan mereka lebih cenderung mentakwikan hadits Anas atau menyalahkan Az Zuhri sebagai perawi dari Anas. Inilah yang disepakati oleh hampir seluruh madzhab yang ada.Bahkan di dalam madzhab Syafi’i dengan tegas menyatakan bahwa yang diharamkan adalah memakai cincin dari emas untuk laki-laki.

    Saya sendiri lebih condong kepada pendapat ini, yaitu kebolehan memakai cincin perak untuk laki-laki, apalagi perempuan. Tetapi, hadits yang dirtiwayatkan oleh Anas bin Malik itu juga diriwayatkan oleh Imam Bukhari, bahkan hanya selang satu hadits antara riwayat Ibnu Umar dan riwayat darinya. Kemudian tuduhan kesalahan terhadap Az Zuhri, saya masing kurang begitu memahaminya. Jika tuduhan itu benar, maka hadits yang seperti ini tidak lagi shahih, tetapi hadits yang syadz. Dan hadits yang syadz adalah hadits yang dla’id. Sedangkan Imam bukhari tidak meriwayatkan hadits yang dla’if di dalam kitab Shahihnya. Walaupu masih dimungkinkan untuk ditakwil bahwa hadits yang diriwayatkan oleh Anas adalah bersifat mutlak dan hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar adalah menjelaskan dan membatasi kemutlakan hadits Anas itu.

    Jadi hukum tertinggi bagi cincin perak adalah boleh, bukan sunnah. Karena makna sunnah adalah dianjurkan dan diberi pahala karena mengerjakannya. Sedangkan di sini ada hadits yang seolah-olah melarangnya.

    Tetapi mnurut saya pribadi, permasalahan ini adalah seperti permasalahan memanjangkan rambut kepala. Kalau merujuk kepada yang dilakukan oleh Rasulullah sendiri bahwa rambut beliau adalam sampai bahunya. Jadi rambut beliau adalah panjang, tidak pendek. Tetapi tradidisi beliau adalah memakai surban dan penutup kepala dan menyisir rambutnya dan ketika menunaikan ibadah haji, beliau mencukur habis rambutnya. Ini yang beliau lakukan.

    Tetapi lihatlah sekarang, masa sudah berubah. Rambut panjang dan gondrong adalah bukan ciri khas para ulama bahkan sebaliknya.Bahkan ada kesan angker dan serem ketika kita melihat orang yang memanjangkan rambutnya. Nah inilah ciri khas mereka.

    Nah, kemudian apakah karena mencontoh rambutnya Rasulullah shallaahu ‘alaihi wasallamsaat ini diperbolehkan ? apalagi disunnahkan ?. Tentu tidak. Lebih baik memendekkan rambut daripada memanjangkan rambut.

    Demikian, juga pada cincin. Ada kesan sangar ketika kita melihat seseorang memakai cincin. Bahkan cincin sekarang lebih mengarah kepada simbol dan kekuatan terntentu, apalagi yang berwujud akik. Ketika Rasulullah membuang shallaahu ‘alaihi wasallam membuang cincinnya pada mulanya, karena beliau tidak ingin para sahabatnya ikut-ikutan membuat cincin yang beliau inginkan untuk tujuan tertentu, yaitu untuk setempat. Jadi sekalipun menggunakan cincin perak diperbolehkan untuk laki-laki, tetapi menurut hemat saya, lebih baik tidak memakainya pada saat ini. Inilah kesimpulan saya pribadi, dengan merujuk kepada dua hadits di atas dan keadaan perubahan kemashlahatan yang terjadi.

    Kepada Mas Robin, saya sampaikan terima kasih atas koreksinya dan saya tidak tersinggung atas semua kata-katanya, justru inilah yang diharapkan, yaitu forum diskusi untuk kebaikan bersama. Demikian juga mas atau mbak dari serbagratisbuku.wordpress.com. Semoga Allah mengampuni kesalahan saya dan kesalahan kita semua. Amin

    http://imamuna.wordpress.com/2009/03/12/cincin-dari-perak-untuk-laki-laki-boleh/
    Selengkapnya...

    Memeriahkan acara tahun baru masehi


    “Memeriahkan acara tahun baru masehi”
    ketegori Muslim. Ass.wr.wb.

    Pak Ustadz, saya mau tanya nich, kalau ikut acara-acara Tahun Baru Masehi itu sebenarnya dibolehkan ngga oleh Islam dan gimana seharusnya kita menyingkapinya? Terima kasih.

    Wassallam wr. wb.

    Baryono

    Jawaban

    السلام عليكم ورحمة الله وبركاتهبسم الله الرحمن الرحيم الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله ، وبعد

    Dalam agama Islam, yang namanya hari raya hanya ada dua saja, yaitu hari ‘Idul Fithr dan ‘Idul Adha. Selebihnya, tidak ada pensyariatannya, sehingga sebagai muslim, tidak ada kepentingan apapun untuk merayakan datangnya tahun baru.

    Namun ketika harus menjawab, apakah bila ikut merayakannya akan berdosa, tentu jawabannya akan menjadi beragam. Yang jelas haramnya adalah bila mengikuti perayaan agama tertentu. Hukumnya telah disepakati haram. Artinya, seorang muslim diharamkan mengikuti ritual agama selain Islam, termasuk ikut merayakan hari tersebut.

    Maka semua bentuk Natal bersama, atau apapun ritual agama lainnya, haram dilakukan oleh umat Islam. Dan larangannya bersifat mutlak, bukan sekedar mengada-ada.

    Majelis Ulama Indonesia pada tanggal 7 Maret tahun 1981/ 1 Jumadil Awwal 1401 H telah mengeluarkan fatwa haramnya natal bersama yang ditanda-tangani oleh ketuanya K.H.M. Syukri Ghazali. Salah satu kutipannya adalah :

    1.Perayaan Natal di Indonesia meskipun tujuannya merayakan dan menghormati Nabi Isa A.S, akan tetapi Natal itu tidak dapat dipisahkan dari soal-soal yang diterangkan di atas.
    2.Mengikuti upacara Natal bersama bagi ummat islam hukumnya Haram
    3.Agar ummat islam tidak terjerumus kepada syubhat dan larangan Allah SWT dianjurkan untuk tidak mengikuti kegitan-kegiatan Natal.

    Namun bagaimana dengan perayaan yang tidak terkait unsur agama, melainkan hanya terkait dengan kebiasaan suatu masyarakat atau suatu bangsa?

    Sebagian kalangan masih bersikeras untuk mengaitkan perayaan datangnya tahun baru dengan kegiatan bangsa-bangsa non-muslim. Dan meski tidak langsung terkait dengan masalah ritual agama, tetap dianggap haram. Pasalnya, perbuatan itu merupakan tasyabbuh orang kafir, meski tidak terkait dengan ritual keagamaan. Mereka mengajukan dalil bahwa Rasulullah SAW melarang
    tasyabbuh bil kuffar

    ‏عن ‏ ‏ابن عمر ‏ ‏قال ‏‏قال رسول الله ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏‏ من تشبه بقوم فهو منهم

    Dari Ibnu Umar ra berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, Siapa yang menyerupa suatu kaum, maka dia termasuk di antara mereka.

    عبد الله بن عمرو أنه قال : من بنى بأرض المشركين وصنع نيروزهم ومهرجانهم وتشبه بهم حتى يموت حشر معهم يوم القيامة

    Dari Abdullah bin Amr berkata bahwa orang yang mendirikan Nairuz dan Mahrajahdi atas tanah orang-orang musyrik serta menyerupai mereka hingga wafat, maka di hari kiamat akan dibangkitkan bersama dengan mereka.

    Tasyabbuh di sini bersaifat mutlak, baik terkait hal-hal yang bersifat ritual agama ataupun yang tidak terkait.

    Namun sebagian kalangan secara tegas memberikan batasan, yaitu hanya hal-hal yang memang terkait dengan agama saja yang diharamkan buat kita untuk menyerupai. Sedangkan pada hal-hal lain yang tidak terkait dengan ritual agama, maka tidak ada larangan. Misalnya dalam perayaan tahun baru, menurut mereka umumnya orang tidak mengaitkan perayaan tahun baru dengan ritual agama. Di berbagai belahan dunia, orang-orang melakukannya bahkan diiringi dengan pesta dan lainnya.Tetapi bukan di dalam rumah ibadah, juga bukan perayaan agama.

    Dengan demikian, pada dasarnya tidak salah bila bangsa itu merayakannya, meski mereka memeluk agama Islam.

    Namun lepas dari dua kutub perbedaan pendapat ini, paling tidak buat kita umat Islam yang bukan orang Barat, perlu rasanya kita mengevaluasi dan berkaca diri terhadap perayaan malam tahun baru.

    Pertama,biar bagaimana pun perayaan malam tahun baru tidak ada tuntunannya dari Rasulullah SAW. Kalau pun dikerjakan tidak ada pahalanya, bahkan sebagian ulama mengatakannya sebagai bid’ah dan peniruan terhadap orang kafir.

    Kedua, tidak ada keuntungan apapun secara moril maupun materil untuk melakukan perayaan itu. Umumnya hanya sekedar latah dan ikut-ikutan, terutama buat kita bangsa timur yang sedang mengalami degradasi pengaruh pola hidup western. Bahkan seringkali malah sekedar pesta yang membuang-buang harta secara percuma

    Ketiga, bila perayaan ini selalu dikerjakan akan menjadi sebuah tradisi tersendir, dikhawatirkan pada suatu saat akan dianggap sebagai sebuah kewajiban, bahkan menjadi ritual agama. Padahal perayaan itu hanyalah budaya impor yang bukan asli budaya bangsa kita.

    .Keempat, karena semua pertimbangan di atas, sebaiknya sebagai muslim kita tidak perlu mentradisikan acara apapun, meski tahajud atau mabit atau sejenisnya secara massal. Kalaulah ingin mengadakan malam pembinaan atau apapun, sebaiknya hindari untuk dilakukan pada malam tahun baru, agar tidak terkesan sebagai bagian dari perayaan. Meski belum tentu menjadi haram hukumnya.

    والله أعلم بالصواب والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

    Ahmad Sarwat, Lc.

    Kata Terakhir dari Penulis: Mohon Maaf Jika ada yang tersinggung kepada kaum non muslim, karena ini adalah hal yang Haq

    Sumber Memeriahkan acara tahun baru masehi : http://assunnah.or.id
    Selengkapnya...

    Apakah Nabi Adam Melihat Langsung ZatNya Allah?

    Assalamualaikum w. w.


    Pak Ustadz, mohon jawabannya, arena belum ada ustadz yang menjelaskan tentang ini.

    1. Apakah pada waktu Nabi Adam dan Hawa di surga dulu, sebelum turun ke dunia, melihat zat Allah langsung?
    2. Begitu juga dengan malaikat,apakah percakapan antara malaikat dengan Allah pada waktu hendak menciptakan Nabi Adam itu berhadapan dan melihat langsung zat Allah. (Q.S.2:30).

    3. Bagaimana dengan membangkangnya iblis ketika diperintahkan untuk sujud. Apakah iblis juga melihat zat Allah langsung?
    4. Bagaimana dengan mi''raj Rosulullah. Apakah waktu tawar menawar jumlah rokaat sholat,juga melihat dan berbicara langsung dengan Allah.

    Atas penjelasan Pak Ustadz saya ucapkan banyak terima kasih. Wassalamu''alaikum w. w.
    jawaban

    Assalamu ''alaikum warahmatullahi wa barakatuh,
    Alhamdulillah wash-shalatu wassalamu ''ala rsulillah, wa ba''du

    Allah SWT adalah Tuhan Yang Maha Sempurna, tidak bisa dilihat namun bisa melihat segala sesuatu. Kepastian tentang tidak mungkin dilihatnya Allah SWT oleh manusia bisa kita dapatkan di dalam banyak dalil, antara lain :

    Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan; dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui. (QS Al-An''am : 103)

    Jadi mengatakan bahwa Allah SWT itu bisa dilihat adalah hal yang menyalahi Al-Quran Al-Kariem sendiri. Selain ayat ini, ayat lain pun akan mengatakan kemustahilan seseorang bisa melihat zat Allah. Misalnya di dalam surat Al-Ikhlas, Allah menegaskan bahwa diri-Nya tidak bisa disetarakan dengan sesuatu.

    Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia". (QS Al-Ikhlas: 4)

    Di dalam Al-Quran juga diceritakan tentang keinginan manusia untuk melihat wujud asli Allah SWT. Namun sudah dipastikan bahwa selama di dunia ini, manusia tidak akan pernah mampu untuk melihat-Nya. Bahkan sampai tidak mau menyembah Allah kalau tidak melihat dulu. Sikap rendah seperti ini hanya datang dari bangsa yang kurang memiliki kecerdasan teologis, sehingga Allah SWT murka kepada mereka.

    Dan ketika kamu berkata, "Hai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan terang , karena itu kamu disambar halilintar, sedang kamu menyaksikannya." (QS Al-Baqarah: 55)

    Bahkan meski dengan maksud baik-baik dari hamba-Nya seperti Nabi Musa as, Allah SWT pun tidak akan pernah dilihat dengan mata telanjang. Hal demikian pernah terjadi dalam diri Nabi yang dijuluki kalamullah ini.

    Dan tatkala Musa datang untuk pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman kepadanya, berkatalah Musa, "Ya Tuhanku, nampakkanlah kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau." Tuhan berfirman, "Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya niscaya kamu dapat melihat-Ku." Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu , dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata, "Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman." (QS.Al-A''rah 143)

    Jangankan manusia yang lemah dan papa, bahkan ketika Allah SWT menampakkan diri kepada gunung sekalipun, maka hancurlah gunung itu. Sebab zat Allah memang betul-betul mustahil dilihat oleh makhluqnya. Meski nabi Musa as. adalah orang yang termasuk paling sering menerima mukjizat dari-Nya. Tapi khusus untuk bisa melihat Allah, fasilitas itu tidak ada. Apalagi makhul lainnya yang nota bene lebih rendah derajatnya dari beliau.

    Kalau pun ada keterangan tentang zat Allah SWT yang bisa dilihat, maka hal itu hanya dalam dalil-dalil yang tegas dan jumlah sedikit sekali. Di antaranya adalah keadaan orang-orang beriman di surga nanti. Di mana secara nalar, mereka sudah bukan lagi manusia biasa yang fana sebagaimana ketika masih hidup di dunia sekarang ini. Melainkan mereka telah menjelma menjadi makhluq penghuni surga.

    Tentu hukum-hukum fisika yang berlaku di dalam surga itu sama sekali berbeda dengan yang ada di dunia ini. Apa un yang ada di surga nanti memang semata-mata belum pernah dilihat mata manusia, belum pernah didengar telinga manusia dan belum pernah terlintas di benak seorang manusia.

    Dan salah satu bentuk kenikmatan paling tinggi di surga dan satu-satunya kenikamatan yang tidak akan pernah di dapat di dunia manapun adalah kemampuan bisa menikmati wajah Allah.

    Informasi tersebut oleh jumhur ulama disebutkan berdasarkan dalil-dalil yang ada di dalam Al-Quran sendiri. Paling tidak ada 3 ayat yang menjelaskan hal itu, yaitu :

    لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ وَلا يَرْهَقُ وُجُوهَهُمْ قَتَرٌ وَلا ذِلَّةٌ أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
    Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya. Dan muka mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak (pula) kehinaan. Mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya. (QS Yunus ayat 26)

    Para ulama dan mufassirin sepakat bahwa makna:[وَزِيَادَةٌ] (ziayadah/tambahan) maksudnya adalah melihat Allah dengan mata kepala.

    إِنَّ الأَبْرَارَ لَفِي نَعِيمٍ عَلَى الأَرَائِكِ يَنْظُرُونَ
    Sesungguhnya orang yang berbakti itu benar-benar berada dalam keni‘matan yang besar (surga), mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang (Allah).)(QS Al-Muthaffifien ayat 22-23)

    وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ
    Wajah-wajah (orang-orang mu‘min) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka melihat.(QS AL-Qiyamah ayat 22-23)

    Ini adalah bagian dari paham akidah Ahlussunnah wal jamaah yang telah disepakati oleh jumhur ulama kebenarannya. Sedangkan melihat Allah di luar yang disebutkan di atas, seperti Nabi Adam ketika di surga, atau malaikat ketika bercakap-cakap dengan Allah, atau iblis yang membangkang bahkan Nabi Muhammad SAW ketika mi''raj, apakah melihat Allah SWT atau tidak, kami belum lagi menemukan landasan dalil yang syar''i yang kuat dan disepakati oleh jumhur ulama. Dan selama belum ada keterangan yang kuat berdasarkan Al-Quran dan Sunnah, kita tidak boleh mengambil kesimpulan yang menyalahi kesimpulan dalil yang sudah tegas menyatakan kemustahilan Allah SWT bisa dilihat.

    Wallahu a''lam bish-shawab
    Wassalamu ''alaikum warahmatullahi wa barakatuh
    Ahmad Sarwat, Lc.
    Selengkapnya...

    Bagaimana Cara Mencintai Allah?

    Ustadz, apa yang dimaksud dengan mencintai Allah? Bagaimana cara agar kita bisa mencintai Allah?

    Salam,
    jawaban

    Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

    Mencintai Allah SWT adalah menjadikan Allah SWT dan segala perintahnya sebagai prioritas utama dalam segala wujud kehidupan sehari-hari. Cinta kepada Allah SWT adalah cinta pada level tertinggi, mengalahkan segala bentuk cinta kepada manusia, termasuk kepada orang tua, istri, anak-anak, harta benda dan semuanya.

    Jangankan menjadikan yang selain Allah SWT itu lebih tinggi derajatnya dengan cinta kepada Allah, bahkan bila hanya sama dan sederajat saja, sudah dikatakan zalim oleh Allah.

    Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa, bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya. QS. Al-Baqarah: 165)

    Apalagi bila menjadikan semua itu lebih kita cintai dari Allah, tentu lebih parah lagi. Allah menyebut mereka yang mencintai selain dirinya dengan tingkat kecintaan yang lebih tinggi dari mencintai Allah, mereka adalah orang fasiq.

    Katakanlah, "Jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan RasulNYA dan dari berjihad di jalan NYA, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan NYA." Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. (QS At-Taubah: 24)

    Tata Cara Mencintai Allah

    Cara mencintai Allah tentu harus sesuai dengan cara yang ditentukan Allah SWT. Bukan dengan cara mengarang-ngarang sendiri, apalagi menciptakan sendiri ritual-ritual aneh yang tidak ada dasarnya dari Allah SWT.

    Dan bentuk mencintai Allah SWT yang paling tepat adalah dengan cara mengikuti petunjuk dari Rasulullah SAW. Sebab beliau adalah petugas resmi yang diutus Allah SWT kepada umat manusia untuk mengajarkan bagaimana cara mewujudkan bentuk real sebuah cinta kepada-Nya.

    قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
    Katakanlah: "Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(QS.Ali Imran: 31)

    Apapun realisasi rasa cinta seseorang kepada Allah SWT, tetapi kalau sampai bertentangan dengan apa yang telah Rasulullah SAW ajarkan, maka pengungkapan bentuk cinta itu justru tertolak, bahkan malah melahirkan laknat dan siksa dari Allah.

    Sebab kedudukan Rasulullah SAW adalah sebagai utusan resmi satu-satunya dari Allah kepada seluruh manusia, bahkan kepada seluruh makhluk hidup yang ada. Maka apa pun yang beliau sampaikan, wajib kita ikuti dengan sepenuh hati. Sebaliknya, apapun yang dilaranganya, tentu saja wajib kita jauhi dari diri kita. Penegasan pernyataan ini disampaikan Allah langsung di dalam Al-Quran Al-Kariem.

    Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya. (QS. Al-Hasyr: 7)

    Ibnu Qayyim Al-Jauziyah pernah menggambarkan sebuah pengibaratan tentang bentuk cinta kepada Allah. Beliau berkata bahwa cinta kepada Allah itu ibarat pohon dalam hati, akarnya adalah merendahkan diri di hadapan Dzat yang dicintainya, batangnya adalah mengenal nama dan sifat Allah, rantingnya adalah rasa takut kepada (siksa)Nya, daunnya adalah rasa malu terhadap-Nya, buah yang dihasilkan adalah taat kepadaNya Dan penyiramnya adalah dzikir kepadaNya. Kapanpun jika amalan-amalan tersebut berkurang maka berkurang pulalah mahabbahnya kepada Allah”. (Raudlatul Muhibin, 409, Darush Shofa).

    Wassalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

    Ahmad Sarwat, Lc.
    Selengkapnya...

    Hukum Memperlajari/ Bertanya Tentang Fengshui, Bolehkah?

    Assalamu ''alaikum Wr. Wb.

    Pak Ustadz, bagaimanakah hukum mempelajari fengshui dalam pandangan Islam? Karena melihat dari ilmu kesehatan, ternyata ada ajaran fengshui yang selaras dengan peningkatan metabolisme tubuh.

    Wassalamu ''alaikum Wr. Wb.
    jawaban

    Assalamu ''alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

    Kepercayaan kepada Feng-Shui ini sebenarnya tidak memiliki penjelasan ilmiyah. Dan umumnya lebih merupakan kepercayaan belaka.

    Menurut kacamata Islam, kepercayaan seperti ini lebih dekat kepada at-tathayyur dan juga ramalan (''arrafah).

    1. At-Tathayyur

    At-tathayyurasal katanya dari thair yang artinya burung. Maksudnya orang Arab jahiliyah terbiasa mempercayai pertanda dari burung yang terbang melintas. Misalnya, bila hendak bepergian lalu tiba-tiba ada seekor burung terbang melintas, maka dia menghentikan niatnya karena terbangnya burung tadi pertanda akan adanya nasib naas yang akan menimpanya.

    Perbuatan seperti ini masuk dalam bab syirik dalam aqidah Islam. Dan harus dihindari sejauh mungkin.

    Lain halnya bila memang ada penjelasan ilmiyah atas kejadian itu. Misalnya bila ada fenomena hewan berlarian dengan cepat dan gelisah, lalu dianalisa bahwa perilaku itu menunjukkan ada gejala alam seperti gempa bumi atau gunung meletus, di mana hewan itu mampu merasakan semacam getarannya terlebih dahulu ketimbang indera manusia, baik karena perubahan suhu, tekanan, gelombang elektro magnetik dan sebagainya, maka hal itu jelas dibolehkan. Karena sesuai yang bersifat fenomena ilmiyah.

    Sedangkan bila kita percaya bahwa rezeki kita akan macet bila rumah kita menghadap ke utara dan lubang angin menghadap ke timur, tanpa ada penjelasan ilmiyahnya, jelas ini adalah tathayyur. Dan ini adalah kepercayaan yang akan menghantarkan kita kepada syirik itu sendiri.

    Sebagai muslim, perbuatan seperti ini tidak boleh dilakukan karena yang mengatur rezeki, nasib, jodoh dan maut adalah Alah SWT. Selama Allah tidak memberi keterangan akan hal itu dan juga tidak ada keterangan ilmiyahnya, maka tidak ada halangan dalam hidup ini.

    2. Ramalan (''Arrafah)

    Selain masuk bab tathayyur, feng shui juga bisa masuk ke dalam bab ramalan (''arrafah). Dan ini pun hukumnya haram dilakukan bagi seorang muslim. Sebagaimana dalil hadits nabawi berikut ini.

    Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi SAW, beliau bersabda, ”Barang siapa yang mendatangi tukang ramal lalu membenarkan apa yang dikatakannya maka ia telah kufur apa yang diturunkan kepada Muhammad SAW.” (agama Islam) (HR Abu Daud, Bukhori, Ahmad dan Tirmidzy)

    Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang mendatangi tukang ramal, kemudian ia bertanya kepadanya tentang sesuatu hal dan membenarkan apa yang dia katakan, maka sholatnya tidak akan diterima selama 40 hari.” (HR Muslim 4/1751)

    Buat seorang muslim, fengshui itu haram hukumnya untuk dipercayai, bahkan tetap haram walau sekedar bertanya kepada ahli fengshui tanpa mempercayai ramalannya. Fengshui juga bukan untuk dibuat main-main dan tetap diharamkan meski kita bertanya sekedar untuk main-main belaka.

    Semoga Allah SWT menghindarkan kita dari tipu daya syetan yang terkutuk. Amien.

    Wassalamu ''alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
    Ahmad Sarwat, Lc.
    Selengkapnya...

    Apakah Jin Juga Meninggal?

    Apakah jin juga sama dengan manusia dia meninggal juga? Apakah hukum syariah yang berlaku dalam Al-Quran juga berlaku untuk jin?
    jawaban

    Assalamu ''alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

    Keterangan yang kita dapati dari beberapa riwayat menunjukkan bahwa jin itu seperti manusia, yaitu bisa meniggal juga. Untuk diketahui bahwa jin itu berbeda dengan iblis yang secara khusus telah diberikan ajal sampai kiamat kubra tiba.

    Ketika Allah SWT mengutuk iblis lantaran tidak taat kepada-Nya untuk bersujud kepada Nabi Adam as, iblis pun masih bermohon untuk ditangguhkan masa hidupnya hingga akhir zaman. Permintaan terakhir itu pun dikabulkan Allah SWT.

    Iblis menjawab, "Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan." Allah berfirman, "Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh." (QS Al-A''raf: 14-15)

    Sedangkan jin itu adalah jenis makhluk halus. Seperti manusia juga, mereka hidup berkelompok-kelompok, bersuku-sku dan berbangsa-bangsa. Mereka terdiri dari laki-laki dan perempuan. Mereka saling menikah, beranak, tumbuh dewasa hingga besar dan mereka pun masing-masing akan mengalami kematian. Meski ukuran usianya sedikit berbeda dengan ukuran usia umumnya manusia biasa.

    Dikeluarkan oleh Ibnu Jarir dari Wahb bin Munabbih bahwa ia ditanya tentang jin, "Apakah jin itu makan, minum, mati dan menikah?" Dijawab, "Mereka bermacam-macam. ada yang tidak makan, minum, mati dan beranak, mereka adalah jin asli (kholisul jin). Ada lagi jenis yang bisa makan, minum, mati dan menikah."

    Keterangan seperti ini bisa kita dalam dari apa yang ditulis oleh Syeikh Abds Salam Bali, dalam kitabnya yang fenomenal: Wiqoyatul Insan minal Jinni wasy-syaithan halaman 31.

    Dan sebagaimana umat manusia, sebagian dari jin itu ada yang muslim dan sebagian lainnya ada yang kafir. Yang muslim pun belum tentu selalu muslim yang baik. Persis sebagaimana manusia, banyak yang muslim tapi bandel, tukang tipu, merampas harta orang lain, main hakim sendiri atau menindas rakyat.

    Al-Quran Al-Kariem menyebutkan bahwa sebagian mereka termasuk jin baik dan sebagian lainnya termasuk jin jahat.

    Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang saleh dan di antara kami ada yang tidak demikian halnya. Adalah kami menempuh jalan yang berbeda-beda. (QS. Al-Jin: 11)

    Hukum Syariah untuk Jin

    Sebagian dari apa yang berlaku buat kita, juga berlaku buat para jin. Meski tentu saja tidak terlalu sama persis. Namun yang pasti, mereka pun muslim dan perlu mendapatkan pelajaran agama dari Rasulullah SAW. Mereka pun mendengarkan bacaan Al-Quran, yaitu jin yang muslim. Sedangkan jin kafir akan merasakan siksa bila mendengar bacaan Al-Quran.

    Katakanlah: "Telah diwahyukan kepadamu bahwasanya: telah mendengarkan sekumpulan jin, lalu mereka berkata: Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al-Qur''an yang mena''jubkan." (QS. Al-Jin: 1)

    Karena itulah suatu saat mereka mengundang secara khusus agar Rasulllah SAW mengajarkan ilmu-ilmu agama. Bahkan saat itu diriwayatkan para shahabat merasa sangat kehilangan, lantaran beliau SAW tiba-tiba saja lenyap masuk ke alam jin. Hingga malam itu mereka tidur dengan sangat ketakutan.

    Dari ''Alqamah berkata, "Aku bertanya kepada Ibnu Mas''ud ra, "Apakah ada seorang dari kalian yang menemani Rasulullah SAW pada malam pada malam jin?" Beliau menjawab, "Tidak seorang pun dari kami yang menemani beliau. Namun kami pernah kehilangan beliau pada malam itu, hingga kami melewait malam itu sebagai malam yang paling menyeramkan yang dilalui oleh suatu kaum..." (HR Ahmad)

    Wallahu a''lam bish-shawab, wassalamu ''alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

    Ahmad Sarwat, Lc.
    Selengkapnya...

    Beda Syetan, Iblis, dan Jin

    Assalamu''alaikum wr. wb.


    Pak Ustadz, saya masih bingung perbedaan antara: jin, syetan, dan iblis. Mohon jawaban Pak Ustadz. Seandainya sudah ada penjelasan di website ini, saya mohon maaf. Dan saya mohon dijawab untuk menghindari kesalahpahaman ini. Jazakamullah Khoiron Katsiro.


    Wassalamu''alaikum wr.wb.
    jawaban

    Assalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh,

    Beda antara nama-nama itu memang ada, meski sangat berdekatan. Bahkan seringkali bertumpang tindih, namun tetap ada pengertian yang berbeda-beda.

    Jin

    Di dalam Al-Quran Al-Kariem, Allah SWT menyebut beberapa kali kata jin. Bahkan ada satu surat yang secara khusus membahas tentang jin dan dinamakan dengan surat Al-Jin. Bila disimpulkan secara sekilas, maka ada hal-hal yang bisa ketahui dari Al-Quran Al-Kariem tentang siapakah sosok jin itu.

    a. Jin diciptakan oleh Allah SWT dari api.
    Allah SWT menyebutkan bahwa jin itu diciptakan dari api yang sangat panas, juga disebutkan terbuat dari nyala api.

    Dan Kami telah menciptakan jin sebelum dari api yang sangat panas.(QS.Al-Hijr: 27)

    Dan Dia menciptakan jin dari nyala api.(QS.Ar-Rahman: 15 )

    b. Jin ada yang muslim dan ada yang tidak
    Sebagaimana firman Allah SWT berikut ini

    Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang saleh dan di antara kami ada yang tidak demikian halnya. Adalah kami menempuh jalan yang berbeda-beda. (QS Al-Jin:11 )

    Contoh jin muslim adalah jin yang menjadi tentara nabi Sulaiman as. Sebagaimana diterangkan di dalam Al-Quran:

    Dan Kami telah menciptakan jin sebelum dari api yang sangat panas. (QS An-Naml: 17 )

    Dan Kami angin bagi Sulaiman, yang perjalanannya di waktu pagi sama dengan perjalanan sebulan dan perjalanannya di waktu sore sama dengan perjalanan sebulan dan Kami alirkan cairan tembaga baginya. Dan sebahagian dari jin ada yang bekerja di hadapannya dengan izin Tuhannya. Dan siapa yang menyimpang di antara mereka dari perintah Kami, Kami rasakan kepadanya azab neraka yang apinya menyala-nyala. (QS Saba'': 12 )

    Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakinya dari gedung-gedung yang tinggi dan patung-patung dan piring-piring yang seperti kolam dan periuk yang tetap. Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur. Dan sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang berterima kasih. (QS Saba'': 13)

    Setan

    Sedangkan Syaitan itu menurut Al-Quran Al-Kariem adalah makhluq yang kerjanya mengajak kepada perbuatan jahat dan keji serta berbohong.

    a. Mengajak kepada Perbuatan Keji
    Perhatikan firman Allah SWT berikut ini:

    Sesungguhnya syaitan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui. (QS. Al-Baqarah: 169)

    b. Syetan adalah Musuh Manusia Allah SWT telah menegaskan bahwa syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.

    Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. (QS Al-Baqarah: 208)

    c. Memberi Janji dan Angan-angan Kosong
    Syaitan itu kerjanya memberi janji dan angan-angan kosong kepada manusia

    Syaitan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal syaitan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka. (QS An-Nisa: 120 )

    d. Manusia pun ada yang Syaitan Juga
    Namun Syaitan itu tidak terbatas pada jenis makhluk halus/jin saja, melainkan manusia pun bisa dikategorikan sebagai syaitan. Dan Al-Quran Al-Kariem pun juga menyebut-nyebut tentang manusia yang menjadi syaitan itu.

    Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan manusia dan jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu. Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan. (QS Al-Anam: 112)

    Katakanlah: "Aku berlidung kepada Tuhan manusia. Raja manusia. Sembahan manusia. Dari kejahatan syaitan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan ke dalam dada manusia, dari jin dan manusia. (QS An-Naas: 1-6 )

    Iblis

    Sedangkan Iblis adalah makhluq durhaka yang jeisnya adalah jin, bukan jenis manusia. Al-Quran Al-Kariem secara tegas menyebutkan bahwa Iblis itu adalah dari jenis jin.

    Dan ketika Kami berfirman kepada para malaikat, "Sujudlah kamu kepada Adam," maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. Patutkah kamu mengambil dia dan turanan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti bagi orang-orang yang zalim. (QS Al-Kahfi: 50)

    Jadi bisa disebutkan bahwa Iblis itu adalah seorang oknum yang berjenis jin. Dialah dahulu jin yang paling dekat dengan Allah SWT, lalu berubah menjadi ingkar lantaran tidak mau diperintahkan untuk bersujud kepada Adam, manusia pertama.

    Dan ketika Kami berfirman kepada para malaikat, "Sujudlah kamu kepada Adam," maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir. (QS Al-Baqarah: 34)

    Motivasi yang menghalangi si Iblis itu untuk sujud kepada Adam tidak lain adalah rasa kesombongan dan tinggi hati. Dia merasa dirinya jauh lebih baik dari Adam. Allah berfirman:

    "Apakah yang menghalangimu untuk bersujud di waktu Aku menyuruhmu?" Menjawab iblis, "Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah." (QS Al-Araf: 12 )

    Ciri yang paling utama dari Iblis adalah dia tidak mati-mati sampai hari kiamat. Dan penangguhan usianya itu memang telah diberikan oleh Allah SWT

    Iblis menjawab, "Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan." Allah berfirman, "Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh." (QS Al-Araf: 14-15 )

    Iblis berkata, "Ya Tuhanku, beri tangguhlah aku sampai hari mereka dibangkitkan." Allah berfirman, "Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh, sampai kepada hari yang telah ditentukan waktunya." (QS Shaad: 79-81 )

    Jadi iblis adalah nama seorang jin yang hidup di masa penciptaan Adam as. dan tidak mati-mati sampai hari ini. Iblis adalah kakek moyang syetan yang juga punya keturunan, namun keturunannya itu tidak mendapatkan jaminan untuk hidup sampai kiamat. Dan sebagai bangsa jin, ada di antara keturunannya itu yang mati. Meski barangkali usianya berbeda dengan rata-rata manusia. Tetapi tetap akan mati juga. Kecuali kakek moyang mereka yaitu Iblis.

    Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh,

    Ahmad Sarwat, Lc.
    Selengkapnya...

    Setan Jenis Manusia: Siapa?

    Assalamualaikum Wr. Wb.

    Pak Ustadz, katanya setan itu ada yang jenis jin dan setan jenis manusia, lalu setan yang jenis manusia itu ciri-cirinya apa saja? Siapa saja, kapan biasanya munculnya, di mana biasanya ada, bagaimana cara dia mempengaruhi orang, dan mengapa sampai dia jadi setan dan seterusnya? Sekian

    Wassalamualaikum Wr. Wb.
    jawaban

    Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,

    Syetan itu ada dua jenis. Jenis pertama yang berwujud makhluk ghaib berupa jin dan sebangsanya. Dia tak terlihat, bisa terbang, menghilang, tidak bisa dipegang, konon juga tidak menyentuh tanah, penuh kesaktian dan terkadang menakuti anak kecil.

    Jenis kedua yang berwujud manusia biasa. Tidak bisa terbang, tidak bisa menghilang dan bisa dipegang dan dilihat. juga tetap berpijak di tanah seperti umumnya manusia. Karena pada hakiatnya dia memang manusia. Sedangkan mengapa bisa jadi syetan, karena aqidah, cara pikir, tindakan dan aktifitasnya sejalan dengan visi dan misi syetan betulan.

    Terkadang syetan dari jenis manusia ini jauh lebih berbahaya dari syetan yang gentayangan itu. Kadang dia adalah teman dekat sendiri, atau masih famili sendiri. Bahkan boleh jadi pasangan sendiri. Semuanya bisa saja menjadi syetan,. bila melakukan hal-hal yang sejalan dengan program syetan.

    Apa saja misalnya?

    Ketika anda ingin segera ke masjid untuk shalat saat mendengar adzan, lalu tiba-tiba atasan melarang anda shalat karena mementingkan pekerjaan bisa segera diselesaikan, maka saat itu atasan anda adalah syetan.

    Ketika seorang wanita yang bukan mahram minta ditemani untuk curhat, di tempat sepi dan menyendiri, tidak ada siapa-siapa, hanya berduaan saja, agar bisa lebih leluasa dan bisa melakukan apa saja, maka wanita itu adalah syetan.

    Ketika teman kerja sepakat membuat laporan palsu/ fiktif, markup harga, memberi sogokan kepada pemegang kebijakan demi mendapatkan keuntungan dengan cara curang, maka mereka itu adalah syetan.

    Ketika seorang wanita menyanyi di panggung sambil goyang pinggul seronok dan membangkitkan birahi laki-alki, tetapi dia bilang bahwa itu adalah seni, maka wanita itu adalah syetan. Dan semua orang yang mengatakan bahwa hal itu bolehkarena merupakanhak asasi masing-masing orang, ketahuilah yang berbicara itu adalah syetan.

    Ketika seorang hakim membuat keputusan yang nyata-nyata berlawanan dengan hukum dan kebenaran, hanya karena sudah disogok duluan oleh yang bayar, maka saat itu dia adalah syetan.

    Ketika seorang produser siaran televisi meloloskan agedan buka-bukaan, laki-laki memerankan wanita dan sebaliknya, atau munculnya adegan zina dan kehidupan ala binatang, maka ketahuilah saat itu dia sedang menjadi syetan.

    Ketika ada orang mengatakan bahwa semua agama saja, demiian juga dengan tuhannya, semua sama, yang berbeda hanya sebutannya, bahkan mengatakan bahwa semua pemeluk agama pasti masuk surga, ketahuilah bahwa anda sedang mendengar syetan berceramah.

    Berhadapan dengan syetan jenis manusia sangat berbahaya, karena penampilannya tidak seperti syetan gentayangan yang memang sudah jelek. Syetan jenis manusia terkadang jauh lebih keren, cantik dan akrab.

    Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,

    Ahmad Sarwat, Lc.
    Selengkapnya...

    Benarkah Umat Selain Islam Bisa Mendapat Surga?

    Assalamualaikum wr. wb. Pak Ustadz,

    Saya punya pertanyaan yang sejak dulu selalu mengganjal. Dalam surat Al-Baqarah ayat 62 Allah berfirman, "Sesungguhnya orang-orang yang beriman, Yahudi, Nasrani, dan Sabiin barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir serta mengerjakan amal saleh maka bagi mereka pahala di sisi Tuhan mereka...(hingga akhir ayat)." Sedangkan di ayat lain Allah berfirman, "Sesungguhnya agama yang diridai Allah adalah Islam." Terlihat dua ayat ini bertentangan. Apa ayat yang pertama telah di-nasakh? Kalau iya, apa asbabun nuzul-nya dari kedua ayat tersebut? Sedangkan apa maksud golongan Sabiin di atas?

    Terima kasih atas jawabannya.

    Wassalamualaikum wr. wb.
    jawaban

    Assalamu ''alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

    Sesungguhnya orang-orang mu''min, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak mereka bersedih hati.(QS. Al-Baqarah: 62)

    Ayat itu tidak dinasakh, karena tidak ada masalah dengan ayat ini. Yang perlu dinasakh adalah kesimpulan mereka yang menyimpangkan makna dan pengertian ayat ini. Ayat ini tidak pernah menyatakan bahwa agama selain Islam itu benar dan pemeluknya akan masuk surga. Sama sekali tidak. Hanya mereka yang ada penyakit di dalam hatinya saja yang masih saja sampai hati menyelewengkan ayat tersebut untuk membenarkan paham pluralisme bejatnya.

    Memang sekilas ayat ini mudah sekali diselewengkanbahwa agama selain Islam itu seolah-olah benar, namun siapapun yang memahami esensi ajaran Islam pasti tahu bahwa ayat ini diturunkan tidak dengan maksud untuk menetapkan bahwa agama-agama itu benar. Maksud ayat ini ingin mengatakan bahwa meski seseorang itu dulunya pemeluk Yahudi, Nasrani atau Shabiin, namun beriman kepada Allah dan beramal shaleh, mereka memang akan masuk surga. Tetapi apa yang dimaksud dengan beriman kepada Allah dan beramal shaleh?

    Sebenarnya beriman kepada Allah dan beramal shaleh itu adalah masuk Islam. Mana mungkin orang Yahudi disebut beriman kepada Allah? Sedangkan sepanjang surat Al-Baqarah kita menemukan kutukan yang Allah lontarkan kepada Yahudi.

    Tidak mungkin ada orang yang memeluk Yahudi sambil beriman kepada Allah. Sebab makna iman itu bukan sekedar percaya adanya Allah. Kalau hanya sekedar percaya adanya Allah, Abu Jahal cs pun juga percaya bahwa Allah itu ada. Makna beriman kepada Allah adalah mentaatinya, mengikuti petunjuk nabi-Nya, Muhammad SAW serta melaksanakan semua perintah-Nya di dalam kitab suci Al-Quran.

    Sedangkan orang-orang Yahudi itu, jangankan menjalankan kitab suci Al-Quran, lha wong kitab suci yang diturunkan kepada mereka sendiri pun diinjak-injaknya. Mana ada orang beriman tapi menginjak-injak kitab suci.

    Dan hal yang sama juga berlaku buat agama lainnya, baik Nasrani, Majusi, Musyrikin atau Shabiiin.

    Jadi makna ayat itu adalah meski dulunya Yahudi, tapi bila kemudian masuk Islam, maka akan masuk surga. Begitu juga meski dulunya Nasrani atau Shabiiin, kemudian masuk Islam, maka mereka bisa masuk surga.

    Ayat ini sama sekali tidak ingin mengatakan bahwa Yahudi, Nasrani dan Shabiin itu akan masuk surga. Sama sekali bukan dan jauh sekali dari intisari dakwah Rasulullah SAW. Kalau memang mereka bisa selamat dan masuk surga dalam agama lamanya, buat apa nabi SAW meminta Kaisar Heraclius, Kisra dan penguasa dunia saat itu untuk masuk Islam? Buat apa beliau menangis memohon kepada Abu Thalib untuk mengucapkan syahadatain? Buat apa penyiksaan dan perang bertahun-tahun itu?

    Bandingkan dengan Ayat yang Lafadznya Mirip

    Sebenarnya kalau ketika membandingkan ayat itu ada baiknya dengan ayat yang lafadznya mirip dan mendekati.
    Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Shaabi-iin orang-orang Nasrani, orang-orang Majusi dan orang-orang musyrik, Allah akan memisahkan (memberi keputusan)di antara mereka pada hari kiamat. Sesungguhnya Allah menyaksikan segala sesuatu.(QS. Al-Hajj: 17)

    Di dalam ayat ini disebutkan bahwa umat Islam, Yahudi, Shabiin, Nasrani, Majusi (penyembah api) dan orang musyrik (penyembah berhala) memang sama-sama menjalankan agama masing-masing. Akan tetapi semuanya tidak sama di sisi Allah, sebab nanti di akhirat Allah akan memisahkan mana agama yang diterima-Nya, yaitu Islam, dan mana agama yang ditolaknya, yaitu selain Islam.

    Sesungguhnya agama di sisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al-Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya. (QS. Ali Imran: 19)

    Bila ayat itu dipahami bahwa semua agama adalah benar dan pasti pemeluknya mendapat pahala, maka pemahaman sesat seperti itu bertabrakan dengan sekian banyak ayat dan hadits lainnya. Misalnya:

    a. Agama lain selain Islam tidak akan diterima dan rugi
    Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.(QS. Ali Imran: 85).

    b. Al-Quran Al-Karim secara tegas menyatakan bahwa Nasrani itu kafir
    Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata, "Sesungguhnya Allah ialah Al-Masih putera Maryam," padahal Al-Masih berkata, "Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu." Sesungguhnya orang yang mempersekutukan Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.(QS. Al-Maidah: 72).

    Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan, "Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga," padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih.(QS. Al-Maidah: 73).

    c. Nasrani itu Dilaknat Allah SWT
    Telah dila''nati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan ''Isa putera Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.(QS. Al-Maidah: 78-79).

    d. Nasrani dan Yahudi itu Diperangi Allah SWT
    Orang-orang Yahudi berkata, "Uzair itu putera Allah" dan orang-orang Nasrani berkata, "Al-Masih itu putera Allah." Demikianlah itu ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Allah memerangi mereka, bagaimana mereka sampai berpaling. (QS. At-Taubah: 30).

    e. Nasrani Itu Celaka karena Menodai Kesucian Kitabnya
    Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al-Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya; "Ini dari Allah", untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang mereka kerjakan. (QS. Al-Baqarah: 79).

    f. Nasrani itu selain menyembah Isa juga menyembah pendeta dan rahib mereka
    Mereka menjadikan para pendeta dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah dan Al-Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.(QS. At-Taubah: 31).

    Wassalamu ''alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

    Ahmad Sarwat, Lc.
    Selengkapnya...

    Apakah Sama Orang Musyrik dengan Orang Kafir?

    Ass wr. wb.


    Ustadz, saya baca dalam surah al-Hajj ayat 17 yang berbunyi "Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Shaabi-iin orang-orang Nasrani, orang-orang Majusi dan orang-orang musyrik, Allah akan memberi keputusan di antara mereka pada hari kiamat. Sesungguhnya Allah menyaksikan segala sesuatu", artinya di dalam al-Quran ada golongan orang-orang musyrik lalu bagaimana dengan orang kafir yang saat ini kita ketahui. Apakah musyrik menurut al-Quran sama dengan orang kafir saat ini?

    Juga dalam surah al-Baqarah ayat 221 jelas-jelas kita dilarang menikahi wanita musyrik. Artinya sangat berbahaya sekali dengan wanita musyrik bila dibandingkan dengan wanita ahli kitab. Bagaimana menurut pandangan al-Quran tentang kedudukan wanita musyrik dengan wanita ahli kitab bahayanya tersebut?

    Serta dalam surah al-Maidah Allah berfirman, "Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik.

    Siapakah orang-orang musyrik itu?

    Syukron jazaakumullah
    jawaban

    Assalamu a''aikum warahmatullahi wabarakatuh,

    Para ulama membagi orang kafiri ini menjadi dua macam. Pertama, kafir pemeluk agama samawi. Mereka sering kali disebut juga dengan ahli kitab. Mereka adalah Yahudi dan Nasrani. Kedua, kafir musyrikin, yaitu mereka yang kafir tetapi bukan pemeluk agama samawi, juga bukan ahli kitab. Misalnya, orang-orang Arab Quraisy semasa masih belum masuk Islam, termasuk juga para penyembah api (Majusi) dan pemeluk agama bumi buatan manusia (agama ardhi). Pemeluk agama Hindu, Budha, Konghuchu, Shinto dan Zoroaster termasuk di dalamnya.

    Di dalam Al-Quran kalau Allah SWT menyebutkan kaum musyrikin, maka yang dimaksud bukanlah para shahabat nabi yang muslim tetapi melakukan beberapa pekerjaan yang bernilai syirik. Namun sebutan musyrikin ini diidentikkan dengan orang-orang kafir Arab yang tidak atau belum mau memeluk Islam.

    Sering kali kita dapati istilah musyrikin Arab, juga istilah kaum musyrikin Quraisy. Mereka ini 100% kafir, bukan muslim dan kalau mati masuk neraka. Sebab yang terjadi pada mereka bukan sekedar mengerjakan perbuatan yang berbau syirik, melainkan mereka anti dengan syahadatain. Bahkan lebih jahat dari umat Yahudi dan Nasrani di masa itu.

    Musyrikin itu Kafir

    Paling tidak ada beberapa hal pokok yang menguatkan bahwa kaum musyrikin itu kafir dan kedudukannya lebih rendah dari ahli ktiab, yahudi dan nasrani.

    1. Mereka tidak pernah mau menerima bahwa tuhan hanya satu saja, yaitu Allah. Meski mereka mengenal dan mengakui bahwa Allah SWT itu, namun konsep ketuhanan mereka adalah mengakui adanya tuhan-tuhan selain Allah. Baik berberntuk berhala batu, atau pun menyerahkan diri mereka kepada kekuatan ghaib.

    Bentuk aqidah seperti ini dalam konsep Islam tidak ada artinya. Sebab yang namanya iman kepada Allah itu adalah menafikan semua bentuk penyembahan kecuali hanya kepada Allah. Mereka adalah orang-orang yang beragama dengan agama nenek moyang danmenyembah berhala, baik yang terbuat dari batu, kayu, atau pun potongan kurma.

    2. Mereka tidak mengakui kenabian Muhammad SAW dan semua nabi serta rasul yang diutus Allah ke muka bumi, sebab mereka itu memang menolak konsep kenabian. Dan realitanya sehari-hari, kerja mereka memang selalu memusuhi Rasulullah SAW, mengejeknya, mengatainya gila, atau menuduhnya sebagai penyihir, atau didudukkan sebagai penyair. Bahkan lebih jauh dari itu, mereka pun setiap harinya tidak berhenti dari memerangi bahkan bercita-cita untuk membunuhnya.

    Sedangkan Yahudi dan Nasrani, meski mereka tidak mengakui kenabian Muhammad SAW, namun mereka masih menerima konsep kenabian. Mereka mengakui kenabian para nabi dan rasul terdahulu, meski mereka seringkali memeranginya juga.

    3. Mereka juga tidak mengakui adanya ayat Al-Quran sebagai wayhu yang turun dari langit, karena mereka memang mengingkari adanya kitab suci yang turun dari langit. Mereka mengatakan bahwa Al-Quran itu hanyalah syair yang diciptakan oleh Muhammad SAW.

    Sedangkan Yahudi dan Nasrani meski tidak menerima Al-Quran, namun mereka menerima Zabur, Taurat dan Injil serta kitab-kitab yang turun kepada para nabi sebelumnya. Meski pun tidak sedikit dari mereka yang menginjak-injak atau memutar balik isinya.

    4. Mereka juga tidak mengakui keberadaan para malaikat yang suci sebagai hamba-hamba Allah SWT yang mulia.

    Sedangkan Yahudi dan Nasrani sangat mengenal konsep tentang adanya para maiaikat, meski banyak di antara merreka menyelengkannya menjadi puteri-puteri Allah SWT. Nauzu billahi min zalik.

    5. Mereka juga mengingkari adanya kehidupan setelah kematian, serta tidak menerima bahwa orang yang telah meninggal itu akan dibangkitkan kembali.

    Sedangkan Yahudi dan Nasrani masih mengakui adanya kehidupan setelah kematian, juga menerima konsep bahwa orang yang sudah mati itu nantinya akan dibangkitkan untuk dihisab untuk dimasukkan ke surga atau ke neraka.

    6. Bahkan yang paling parah, mereka juga meningkari adanya azab kubur serta tidak pernah percaya akan datangnya hari kiamat. Surga dengan segala kenikmatannya dan neraka dengan semua bentuk siksanya tidak pernah mereka akui keberadaannya.

    Sedangkan Yahudi dan Nasrani sangat mengakui adanya surga dan neraka, bahkan istilah yang mereka pakai punya banyak kemiripan dengan istilah di dalam Al-Quran. Di dalam Al-Quran seringkali disebutkan nama surga yaitu Jannatu ''Adnin, sebagaimana Yahudi dan Nasrani juga menyebut taman Eden.

    Jadi kalau pada beberapa poin utama di atas, musyrikin Arab tidak menerimanya, padahal semua itu tidak lain adalah rukun Iman, maka Yahudi dan Nasrani masih mengenalnya atau mengakuinya, meski dengan cara pandang yang seringkali keliru. Semua itu akibat penyelewengan besar-besaran yang dilakukan para pemuka agama mereka, yang pada hakikatnya telah mengangkat diri menjadi tuhan.

    Kegembiraan para shahabat dengan berita menangnya Romawi atas Persia

    Bahwa Yahudi dan Nasrani lebih dekat kepada Islam ketimbang kaum musyrikin sangat bisa dibaca dari sikap spontan para shahabat nabi SAW, ketika mendengar pasukan Romawi berhasil mengalahkan pasukan Persia.

    Pasukan Romawi adalah pemeluk agama samawi, agama yang diturunkan dari langit, sebagaimana agama yang dipeluk oleh umat Islam. Sedangkan pasukan Persia adalah kaum paganis musyrikin penyembah api. Agama mereka hanyalah hasil produk filsafat manusia biasa. Secara psikologis, para shahabat merasakan kedekatan hubungan dengan sesama pemeluk agama samawi. Sehingga wajar bila mereka turut bergemira dengan kemenangan pasukan Romawi.

    Alif laam Miim.Telah dikalahkan bangsa Romawi,di negeri yang terdekat. Dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang,dalam beberapa tahun lagi. Bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang). dan di hari (kemenangan bangsa Rumawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman. (QS. Ar-Ruum: 1-4)

    Wallahu a''lam bish-shawab wassalamu a''alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

    Ahmad Sarwat, Lc.
    Selengkapnya...

    Bisakah Mimpi Dijadikan Petunjuk?

    Assalaamu''alaikum w.w.

    Uztad yang baik,
    Saya punya teman seorang akhwat yang dia yakin sekali bahwa Allah telah menentukan jodohnya lewat mimpi. Mimpi itu datang sampai empat kali. Sayangnya, calonnya tersebut tidak diredhai oleh kedua orang tuanya karena ada miskomunikasi yang belum bisa diluruskan sampai sekarang. Teman saya itu berencana untuk tetap menikah dengan calonnya tersebut karena katanya Allah yang telah menggariskannya dan dia tidak berani membantah. Apakah bisa mimpi tersebut dijadikan petunjuk, bukankah ridha Allah juga erat kaitannya dengan ridha orang tua? Apa yang harus saya sampaikan kepada teman akhwat saya tersebut agar silaturahmi dengan orang tuanya tidak putus karena orang tuanya benar-benar tidak bisa meridhai si calon tersebut. Terimakasih ustadz.

    Wassalamu''alaikum,
    jawaban

    Assalamu ''alaikm warahmatullahi wabarakatuh,

    Sampaikan kepadanya bahwa tidak semua mimpi itu berarti petunjuk. Kecuali mimpi para nabi dan rasul. Sedangkan mimpi manusia biasa, seringkali hanya sekedar bunga tidur, bahkan lebih jelek lagi, bisa saja datangnya dari syetan.

    Bahkan ketika sebagian shahabat nabi SAW bermimpi mendapat petunjuk dari Allah SWT, mereka pun melakukan kroscek kepada Rasulullah SAW. Sebagian mereka bermimpi tentang syariat adzan dalam fungsinya memanggil orang untuk shalat. Mereka tidak berani begitu saja menyimpukan bahwa adzan itu secara resmi adalah panggilan untuk shalat berjamaah, kecuali setelah mereka bertanya dulu kepada Rasulullah SAW. Barulah setelah beliau SAW membenarkan hal itu dan menyatakan resminya adzan sebagai panggilan untuk shalat, berkumandanglah adzan pertama dalam sejarah manusia.

    Semua ini menunjukkan bahwa meski pun mimpi itu kita anggap petunjuk dari Allah SWT, akan tetapi tidak boleh dijadikan dasar syariah. Sebab syariah itu tidak datang lewat mimpi manusia biasa, bahkan mimpi para shahabat nabi pun juga tidak termasuk sumber syariah.

    Namun kalau perkara yang tidak terkait dengan syariah, tidak bertabrakan dengan syariah dan juga tidak bertabrakan dengan logika akal sehat, boleh-boleh saja seseorang terinspirasi dari sebuah mimpi. Kalau anda mimpi bahwa Allah menurunkan wahyu yang berupa tata cara ibadah dan syariah, maka pastikan bahwa itu adalah mimpi buatan syetan. Sebab syariah sudah putus dan berhenti sejak Rasulullah SAW wafat. Bahkan manusia biasa tidak akan menerima perintah syar''i secara langsung, kecuali nabi dan rasul.

    Namun kalau mimpi itu di luar masalah syariah, boleh saja dibenarkan. Asalkan tidak bertentangan dengan syariah itu sendiri serta akal sehat. Orang yang bermimpi mendapatkan jodoh, namun jodohnya itu lain agama, tentu saja bukan mimpi petunjuk, melainkan mimpi penyesat dari syetan. Demikian juga kalau mimpi mendapat jodoh tapi harus berlaku durhaka kepada orang tua, jelaslah mimpi itu datangnya dari syetan. Sebab tujuan syetan itu membuat manusia berdosa kepada Allah dan manusia, terutama kepada orang tua.

    Bolehlah teman anda itu mengikuti mimpi, namun jangan semata-mata mengandalkan mimpi sebagai bahan pertimbangan. Dalam segala hal, seorang muslim harus menggunakan akal sehat dan juga syariat. Kalau sebuah mimpi bertentangan dengan akal sehat dan syariat, pastilah mimpi itu mimpi sesat.

    Wassalamu ''alaikm warahmatullahi wabarakatuh,

    Ahmad Sarwat, Lc.
    Selengkapnya...

    Syarat Sah Kalimat Syahadat

    Assalamu''alaikum Wr. Wb.

    Pak Ustadz yang saya hormati, saya ingin bertanya: Apa saja syarat sahnya kalimat syahadat, sehingga dapat menjadikan sahnya seseorang memeluk Islam, sebagaimana syarat sahnya rukun Islam yang lain seperti shalat, zakat, puasa dan haji? Apakah harus diucapkan di hadapan seorang saksi? Apakah yang menjadi saksi itu harus orang tertentu, seperti pada zaman Rasulullah yang menjadi saksi Rasulullah sendiri, tolong dijelaskan Pak Ustadz.

    Bagaimana halnya dengan orang dilahirkan oleh orang tua muslim dan dari kecil mengikuti agama orangtuanya? Apakah dia juga harus mengucapkannya di hadapan seorang saksi apabila dia telah mencapai akil baligh? Tolong diberikan dalil-dalil yang mendukung agar saya dapat memahami. Mohon maaf atas ketidaktahuan saya. Atas jawaban ustadz saya ucapkan terimakasih.

    Wassalamu''alaikum Wr. Wb.
    jawaban

    Assalamu ''alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

    Semua Orang pada Dasarnya Sudah Muslim

    Setiap orang yang lahir di muka bumi ini pada dasarnya adalah muslim, sehingga tidak perlu melakukan syahadat ulang. Dalam aqidah Islam, tidak ada orang yang lahir dalam keadaan kafir. Sebab jauh sebelum bayi itu lahir, Allah SWT telah meminta mereka untuk berikrar tentang masalah tauhid, yaitu mengakui bahwa Allah SWT adalah tuhannya.

    Di dalam Al-Quran Al-Kariem, hal ini ditegaskan sehingga tidak ada alasan untuk mengatakan bahwa bayi lahir itu dalam keadaan kafir.

    Dan, ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka, "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab, "Betul, kami menjadi saksi." agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan, "Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang lengah terhadap ini. " (QS Al-A''raf: 172 )

    Selain itu, Rasulullah SAW juga telah bersabda bahwa setiap manusia itu lahir dalam keadaan fitrah. Dan makna fitrah itu adalah suci, lawan dari kufur dan ingkar kepada Allah SWT. Barulah nanti kedua orang tuanya yang akan mewarnai anak itu dan menjadikannya beragama selain Islam. Misalnya menjadi Nasrani, Yahudi atau Majusi.

    Dari Abi Hurairah ra. bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, kecuali orang tuanya yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi." (HR Bukhari 1296)

    Maka anak-anak yang beragama non Islam itu pada dasarnya adalah anak korban pemurtadan dari orang tuanya. Sebab pada dasranya anak itu muslim sejak dari perut ibunya. Dan lahir dalam keadaan fitrah yang berarti muslim.

    Sedangkan bila orang tuanya muslim, maka tidak ada proses pengkafiran. Dan karena itu tidak ada kewajiban untuk masuk Islam dengan berikrar mengucapkan dua kalimat syahadat.

    Orang Masuk Islam

    Seorang yang lahir dalam keadaan bukan muslim, ketika sadar dan ingin masuk Islam, maka cukuplah baginya untuk mengucapkan dua kalimat syahadat pada dirinya sendiri. Di dalam hatinya itu dia mengingkarkan bahwa dirinya menyatakan tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah SWT. Juga mengikrarkan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah rasul-Nya.

    Adapun syahadat itu harus disaksikan oleh orang lain, sama sekali bukan merupakan syarat sahnya syahadat itu sendiri. Meski banyak para shahabat Nabi SAW ketika masuk Islam yang datang menemui beliau, bukan berarti syarat masuk Islam itu harus berikrar di muka orang lain.

    Tindakan mereka sekedar menegaskan secara formal bahwa dirinya sudah masuk Islam, serta menyatakan ikrar untuk membela dan memperjuangkan agama Allah SWT.

    Banyak di antara shahabat yang ketika masuk Islam pertama kali tidak di hadapan beliau SAW. Ikrar atas syahadat maknanya adalah mengumumkan kepada khalayak bahwa dirinya kini telah berganti agama dari non muslim menjadi muslim. Ikrar ini berfungsi untuk merubah pandangan umum sehingga mereka bisa memperlakukannya sebagai muslim.

    Namun dalam kondisi tertentu, pengumuman atas ke-Islaman diri itu tidak mutlak harus dilakukan. Misalnya seperti yang dahulu dialami oleh Rasulullah SAW dan para shahabat di masa awal dakwah, banyak di antara mereka yang merahasiakan ke-Islamannya. Namun syahadat mereka tetap syah dan mereka resmi dianggap sebagai muslim.

    Di hari ini pun bila ada seserorang yang karena pertimbangan tertentu ingin merahasiakan ke-Islamannya, maka dia sudah syah menjadi muslim dengan bersyahadat tanpa disaksikan siapapun. Dan sejak itu dia terhitung mulai menjadi muslim yang punya kewajiban shalat, puasa, zakat dan lain-lain.

    Syahadatain itu tidak mensyaratkan harus dilakukan di depan imam, tokoh, kiayi atau ulama. Tanpa adanya kesaksian mereka pun syahadat itu sudah syah dan dia sudah menjadi muslim dengan sendirinya.

    Untuk Menjadi Orang Beriman Tidak Perlu Minta Izin

    Untuk menjadi hamba Allah SWT dan beriman kepada Rasulullah SAW, tidak perlu minta izin kepada makhluq Allah. Sebab beriman itu adalah hak sekaligus kewajiban seorang makhluq.

    Urusan mau beriman kok harus minta izin segala? Yang terkenal suka bikin peraturan bagi orang yang mau beriman agar minta izin terlebih dahulu adalah Firaun. Firaun akan mempertanyakan mengapa orang-orang jadi beriman tanpa minta izin dahulu kepadanya. Seolah-olah dia merasa punya hak untuk meregistrasi orang-orang mau masuk jadi kelompok mukminin. Padahal untuk urusan seperti ini, Allah SWT tidak pernah ''buka cabang'' atau ''outlet. Juga tidak pernah membuka ''agen yang menjual tiket'' untuk masuk Islam.

    Fir''aun berkata: "Apakah kamu beriman kepadanya sebelum aku memberi izin kepadamu?, sesungguhnya adalah suatu muslihat yang telah kamu rencanakan di dalam kota ini, untuk mengeluarkan penduduknya dari padanya; maka kelak kamu akan mengetahui (QS.Al-Araf: 132 )

    Syahadat Bukan Akad Nikah

    Syahadat itu tidaklah harus disaksikan sebagaimana sebuah akad nikah yang menjadi tidak syah apabila tidak ada saksinya (nikah sirri). Bila seorang telah meyakini Islam sebagai agamanya dan mengucapkan dua kalimat syahadat, secara otomatis dia adalah seorang muslim.

    Dan di atas pundaknya telah berlaku beban sebagaimana seorang muslim lainnya. Tidak perlu baginya untuk mencari orang lain atau mengadakan sebuah seremoni masuk Islam dengan menghadirkan para saksi melihat dia mengucapkan dua kalimat syahahat.

    Jadi bila di tengah hutan belantara yang tidak ada manusianya, seseorang yang tadinya nasrani, majusi atau yahudi dan bahkan dari kepercayaan dan religi manapun bisa saja masuk Islam begitu saja.

    Kalau dia masuk ke tengah peradaban masyarakat maka cukuplah dia mengaku sebagai muslim, shalat di masjid dan melakukan semua kewajiban sebagai muslim. Dia tidak perlu melakukan syahadat ulang di hadapan para saksi. Tidak perlu menandatangani surat bermaterai untuk menyatakan diri sebagai muslim.

    Bagaimana kalau dia murtad dan keluar dari Islam?

    Dalam hukum Islam, seorang muslim yang jelas melakukan perbuatan yang mengantarkannya kepada kemurtadan harus diperiksa dan dimintai keterangan secara syah oleh mahkamah syariah (pengadilan). Bila ternyata dia benar-benar secara sadar menyatakan diri keluar dari Islam, maka dia diminta untuk bertobat dan kembali ke dalam ajaran Islam. Tapi bila tetap bersikeras untuk keluar dari ISlam, maka hukumannya adalah dibunuh. Untuk masuk Islam seseroang bisa dengan mudah melakukannya, tapi untuk bisa dianggap keluar dari Islam, perlu ada ''persaksian'' di dalam sebuah mahkamah syariah.

    Wassalamu ''alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

    Ahmad Sarwat, Lc.
    Selengkapnya...

    Asal Mula Rukun Iman

    Assalamu''alaikum Wr Wb

    Pak Ustadz, Sejak kecil saya diajarkan tentang Rukun Iman dan urutannya yang telah fixed. Tapi baru sekarang saya sadar, bahwa sampai sekarang saya tidak pernah menanyakan asal muasalnya.. Apakah ada urutan rukun iman itu di Al-Quran atau mungkin di hadist Rasul? Jika ada, bisakah bapak menjelaskan darimana referensi tersebut..

    Terus terang, saya pribadi kurang yakin dengan hadist-hadist Rasul yang beredar sekarang, karena kita sama sekali tidak tahu keabsahannya. Bisa saja orang-orang kafir menciptakan cerita-cerita dan mengatakan bahwa itu adalah hadis yang dapat dipercaya. Terima kasih atas perhatiannya.

    Wass Wr Wb
    jawaban

    Asslamu alaikum wrahmatullahi wabarakatuh,

    Rukun iman yang enam itu secara lengkap terdapat di dalam sebuah hadits yang amat terkenal dan juga shahih. Keshahihannya tidak diragukan lagi oleh para ulama. Bahkan Al-Imam An-Nawawi rahimahullah menempatkannya dalam urutan pertama dalam susunan hadits arba''in (40 hadits utama).

    Salah satu petikannya adalah:“Iman adalah percaya kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya, Hari Akhir dan kepada Qadar baik dan buruk-Nya dari Allah taala. (HR. Muttafaq ''alaihi)

    Mengapa Ragu?

    Sebenarnya anda tidak perlu ragu-ragu dengan hadits nabawi yang beredar sekarang maupun di masa lalu. Sebab sejak fajar Islam menyingsing di masa lalu, Allah sudah menjamin keaslian agama ini dari kemungkinan dipalsukan oleh orang-orang yang tidak bertanggung-jawab. Shahih tidaknya suatu hadits bisa dengan mudah kita lihat dari perawinya. Lagi pula kita masih punya banyak ulama hadits, yang bisa dengan mudah kita tanya dan minta penjelasan tentang keshahihan suatu hadits.

    Khususnya dalam pemeliharaan keaslian sunnah nabawiyah, Allah SWT berkenan membangkitkan dari putera-putera Islam, orang-orang yang menjadi pemelihara, pembela dan pelindungnya. Mereka telah melakukan penelusuran riwayat tiap-tiap hadits nabawi yang ada. Bahkan mereka berhasil mendirikan sebuah disiplin ilmu mandiri yang kita kenal dengan ilmu riwayat.

    Ilmu seperti ini tidak pernah ditemukan sebelumnya dan sesudahnya, bahkan di luar dunia Islam sekalipun. Bayangkan, bagaimana di masa itu dengan media informasi yang terbatas, para ulama mengadakan tour abadi untuk mengejar keshahihan sebuah hadits, dari satu negeri ke negeri yang lain. Dengan menggunakan metodologi yang nyaris tidak pernah terpikirkan oleh ilmuwan dari dunia barat.

    Intinya, mereka menggunakan dua parameter. Pertama, dengan melihat kondisi ke-dhabit-an perawi. Ini untuk memastikan apakah seorang yang meriwayatkan sebuah hadits memang seorang yang punya kemampuan untuk menghafal hadits yang disampaikannya itu dengan benar, baik pada matan (redaksi) maupun pada jalur (sanad) periwayatannya. Adakah seorang perawi memenuhi segala macam persyaratan yang sangat berat itu.

    Dari sini akan ketahuan apakah riwayat suatu hadits benar-benar bisa dipertanggung-jawabkan kebenarannya atau tidak. Bila perawi ketahuan sebagai orang yang kurang hafalannya, atau tidak mampu menyebutkan jalur periwayatannya secara pasti, maka haditsnya itu akan dibuang ke tempat sampah.

    Apalagi bila sampai ketahuan bahwa hadits itu tidak punya asal-usul, alias hadits palsu. Tentu dengan mudah akan segera ketahuan.

    Kedua, paramater yang digunakan adalah sisi ''adaalatur-rawi, yaitu penilaian terhadap pribadi si perawi. Benarkah dirinya seorang muslim yang serius menjalankan agama atau tidak? Yang dinilai adalah aspek aqidah, syariah dan akhlaq si perawi. Bahkan termasuk muru''ah yang sering dianggap agak sepele, ternyata turut dijadikan ukuran keshahihan suatu hadits.

    Seringkali disebutkan bahwa bila seorang perawi punya akhlaq yang kurang baik, atau mengerjakan hal-hal yang mengurangi muru''ah-nya, maka nilainya akan dikurangi secara sangat signifikan.

    Para perawi itu dari level terakhir hingga ke level pertama, yaitu di tingkat shahabat sebelum sampai kepada Rasulullah SAW, lalu didata dan ditabulasi sedemikian rupa dalam ratusan kitab terkenal. Kondisi hafalan mereka, kemampuan mereka dalam menyimpan, bahkan sifat-sifat mereka, semua terdata dengan rapi di dalam database para ulama.

    Kitab-kita yang memuat data para perawi itu dikenal sebagai kitab rijalul hadits. Kitab-kitab seperti ini barangkali kurang populer di kalangan awam. Bahkan kalau anda cari di toko buku di Indonesia, penjualnya pun akan kebingungan. Namun ketahuilah, bahwa semua data mereka sudah tercatat dengan rapi.

    Tinggal para ulama hadits melakukan penelitian atas masing-masing hadits itu dengan dilakukan penilaian pada para perawinya. Namun di dalam catatan mereka, tiap hadits itu sudah terlacak dengan jelas peta penyebarannya, mulai dari mulut Rasulullah SAW ke generasi pertama (shahabat), lalu ke generasi kedua (tabi''in), lalu ke generasi ketiga (atba''ut-tabi''in), lalu ke generasi berikutnya lagi. Tugas para ulama di masa itu tinggal melakukan dua sisi penilaian utama dari masing-masing orang itu. Salah satu hadits itu adalah hadits berikut ini:

    Rasululah SAW bersabda,"Bila salah seorang dari kamu bangun dari tidurnya, maka hendaklah dia mencuci tangannya, karena dia tidak tahu semalam tangannya berada di mana”.

    Di tangan para ulama sudah ada peta penyebaran hadits itu. Pada level pertama (tabaqah ula), hadits inidisampaikan oleh Rasulullah SAW kepada para shahaat. Tercatat ada 5 orang shahabat yang berbeda yang menyampaikan kembali hadits ini. Mereka adalah:

    1. Abu Hurairah ra
    2. Ibnu Umar ra
    3. Jabir bin Abdillah ra
    4. Aisyah ra
    5. Ali bin Abi Thalib ra

    Kemudian, masing-masing shahabat meriwayatkan kembali hadits yang pernah didengarnya langsung dari Rasulullah SAW. Salah seorang dari shahabat itu, yaitu Abu Hurairah ra kemudian meriwayatkan hadits ini kepada orang lain. Tercatat ada 13 orang pada level kedua yang mendapatkan hadits ini dari Abi Hurairah. Mereka adalah para tabi`in.

    Kemudian hadits ini bisa dilacak lagi ke bawah, di mana kita bisa dengan mudah mengetahui bahwa ke-13 orang ini lalu menyebar ke berbagai penjuru dunia. Dalam database tercatat dari 13 orang itu ada 8 orang yang menerima hadits ini dan tinggal di Madinah, ada satu orang tinggal di Kufah, ada 2 orang tinggal di Bashrah, satu orang tinggal di Yaman dan seorang lagi tinggal di Syam.

    Kemudian ke 13 tabi`in ini lalu meriwayatkan lagi hadits itu kepada generasi berikutnya (level ketiga), yang kita sebut sebagai atba`ut-tabi`in. Dan jumlah mereka menjadi 16 orang. Detailnya adalah ada 6 orang tinggal di Madinah, 4 orang di Bashrah, 2 orang di Kufah, 1 orang di Makkah, 1 orang di Yaman, 1 orang di Khurasan dan 1 orang di Himsh Syam.

    Maka amat mustahil ke 16 orang yang domisilinya terpencar-pencar di beragam ujung dunia itu pernah berkumpul bersama pada suatu saat untuk membuat hadits palsu bersama yang redaksinya sama. Atau mustahil pula mereka masing-masing di rumahnya membuat hadits lalu kebetulan semua bisa sama sampai pada tingkat redaksinya.

    Padahal ke 16 orang itu baru dari jalur Abu Hurairah saja. Apabila jumlah rawi itu ditambah dengan yang dari ke 4 shahabat lainnya, maka jumlahnya akan menjadi lebih banyak.

    Pesan Buat Para Pengingkar Hadits
    Para pengingkar hadits dari kalangan muslimin sebenarnya perlu membuka mata untuk tahu dari manakah sebenarnya pemikiran keliru itu mereka lahap. Tidak lain dari para orientalis yang sejak awal sudah punya niat tidak baik terhadap Islam.

    Seharusnya mereka perlu sedikit lebih mawas diri untuk belajar dan memperdalam ilmu agama secara benar, agar tidak terlalu mudah terlena dengan bujuk rayu musuh Islam.

    Sayangnya kebanyakan mereka justru terlalu awam dengan ajaran Islam, ditambah terlalu mudah terpesona dengan apa yang lahir dari mulut musuh-musuh Islam. Seolah-olah barat itu sumber kebenaran satu-satunya.

    Wassslamu alaikum wrahmatullahi wabarakatuh,
    Ahmad Sarwat, Lc
    Selengkapnya...

    Sikap Sebagai Umat Islam terhadap Aliran dan Pemikiran Sesat

    Assalamu Alaikum wr. wb. Ustadz

    Makin hari mulai makin terasa berat saja ya ustadz yang dihadapi Islam akhir-akhir ini. Munculnya ajaran-ajaran yang membawa nama Islam tetapi yang tidak mengakui Nabi kita Muhammad SAW sebagai nabi terakhir lah, atau sholat yang mulai dilakukan secara aneh-aneh lah, atau yang tidak perlu puasa Ramadhan lah, tetapi mereka menjalankan ajarannya layaknya seperti ajaran Islam. Apa itu semua trik kaum kafir untuk menjauhkan umat Islam dari ajaran Islam yang murni, atau ada fenomena apa, ya ustadz? Atau ini tanda-tanda akhir zaman? Lalu bagaimana kita sebagai muslim untuk menyikapinya?

    Demikian saja ustadz, Wassalamualaikum wr. wb.
    jawaban

    Assalamu ''alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

    Boleh saja sebagian di antara kita menganalisa demikian, misalnya semua ini adalah trik musuh-musuh Islam, atau bahkan juga merupakan tanda-tanda akhir zaman. Namun lepas dari semua analisa itu, ada satu hal yang juga jangan sampai kita lupakan. Yaitu akar permasalahan dari semua ini.

    Berbagai macam penyimpangan itu semestinya tidak perlu tersiar bila saja umat Islam ini punya sistem ''kekebalan'' aqidah. Di masa rasulullah SAW, nyaris tidak pernah kita dapati kasus penyimpangan paham yang aneh-aneh seperti sekarang ini, demikian juga di masa para khulafa ar-rasyidun, bahkan juga pada masa-masa salafuna ash-shalih.

    Mengapa demikian? Jawabnya karena di masa itu, Islam diajarkan dengan sangat efektif kepada semua lapisan umat. Akses untuk mengenal ajaran Islam sedemikian terbuka, sehingga nyaris tidak ada tempat lagi buat syetan untuk mengisi kekosongan aqidah umat.

    Sebaliknya yang terjadi masa sekarang, suburnya berbagai macam bentuk penyelewengan pemikiran di tengah milyaran umat Islam justru dikarenakan lemahnya sistem kekebalan (immunitas) umat dari sisi aqidah.Begitu banyak umat Islam yang jahil terhadap agamanya sendiri.

    Dan penyebabnya mudah ditebak, ya karena akses umat Islam untuk bisa belajar agama Islam nyaris tersumbat seluruhnya, kecuali lewat lubang-lubang jarum yang nyaris tidak mungkin bisa dilewati. Kalau Nabi Muhammad SAW telah mewajibkan seluruh umat Islam untuk belajar agamanya, justru umat Islam nyaris tidak pernah mengupayakannya.

    Menuntut ilmu hukumnya fardhu bagi tiap-tiap muslim (HR. Ibnu Majah)

    Lembaga/ Institusi Pendidikan Agama

    Namun umat Islam kini justru tidak punya lagi institusi untuk mengajarkan Islam secara serius. Agama Islam tidak diajarkan di sekolah-sekolah, kecuali hanya sekedar basa-basi. Bahkan malah muncul ide untuk memisahkan sekolah agama dan sekolah umum, seolah agama tidak perlu diajarkan kecuali buat mereka yang mau mempelajarinya saja.

    Pelajaran pendidikan agama Islam sejak dari SD hingga perguruan tinggi sama sekali tidak pernah berhasil mengajarkan agama secara proporsional. Bahkan sekedar memastikan bahwa umat Islam bisa membaca Al-quran sekalipun tidak pernah ada pertanggung-jawabannya.

    Urusan belajar agama seolah menjadi urusan masing-masing, negara dianggap tidak punya kewajiban untuk mengajarkan agama. Dan nyatanya memang negara ini tidak pernah mendirikan sekolah agama, madrasah, pesantren atau bahkan masjid sekalipun. Kalau di negeri ini ada masjid, madrasah, pesantren dan sebagainya, semua itu hasil infaq, waqaf dan patungan sukarela umat Islam sendiri. Padahal yang membayar pajak dan membiayai penyelenggaraan negara adalah umat Islam.

    Di tingkat orang dewasa, lebih sulit lagi untuk mendapatkan akses belajar ilmu agama. Kalau pun ada kursus, seminar, pelatihan atau pendidikan, biasanya untuk hal-hal yang terkait dengan kepentingan duniawi semata. Kursus bahasa Inggris, komputer, pajak (brevet) mungkin paling banyak dicari. Tapi kursus agama, sudah banyak yang berdiri dan sudah bubar jalan.

    Kalau pun di masjid ada pengajian, seringkali tidak terporgram dengan baik. Di samping sulit sekali mendapatkan ustadz yang berkualitas, yang menguasai ilmu-ilmu keIslaman dengan baik.

    Lenyapnya Ulama

    Faktor yang tidak kalah penting yang menyebabkan munculnya pemikiran yang menyeleweng dari aqidah karena semakin langkanya para ulama. Yang tua sudah banyak yang dipanggil Allah, sedangkan yang muda belum kelihatan tanda-tandanya. Kalau pun ada, kapasitasnya bukanlah ulama, melainkan sekedar tukang pidato yang berkostum kiyai, lalu diekspose media sehingga mencuat, namun sayangnya dari segi ilmu dan kapasitasnya amat jauh dari kriteria ulama.

    Bagaimana mau disebut ulama, kalau bahasa Arab pun tidak paham? Bagaimana dia akan menerangkan suatu ayat, kalau merujuk ke kitab tafsir pun tidak mampu? Bagamana mau menerangkan hadits nabawi, kalau diminta mentakhrij sebuah hadits pun tidak punya ilmunya?

    Belum lagi kalau kita bicara kuantitas perbandingan jumlah ulama dengan umat. Rasio perbandingannya menjadi sangat tidak imbang. Sehingga seorang ulama harus melayani begitu banyak umat Islam, yang tersebar di seantero nusantara ini.

    Dan sayangnya sekali lagi, tidak ada satu pihak yang memikirkan untuk memberi ma''isyah atau sekedar nafkah bagi para ulama. Jangan bandingkan dengan penceramah ibu kota yang sekali ceramah bisa mengantungi jutaan rupiah, tetapi bayangkanlah para ulama yang di desa-desa, daerah terpencil bahkan di pinggiran jakarta sekalipun. Maka sedikit sekali ibu-ibu yang memompakan semangat kepada anaknya agar kelak menjadi ulama.

    Bahkan ibu guru di sekolah kalau memberikan pilihan kepada anak didiknya tentang cita-cita mereka, tidak pernah menyebutkan profesi ulama sebagai pilihan. Paling-paling mereka bertanya, "Anak-anak, nanti kalau besar mau jadi dokter, insinyur atau pilot?" Belum pernah mereka menawarkan apakah anak-anak mau jadi ulama?

    Munculnya Aliran Sesat

    Di tengah lesu darahnya pengajaran agama di tengah umat dalam arti luas, maka lahirnya wilayah blank spot, suatu wilayah di tengah umat yang tidak tersentuh siraman dakwah dan taklim Islam. Bahkan seringkali bukan di pedalaman Kalimantan, melainkan di tengah belantara beton Jakarta, masih banyak terdapat.

    Sesungguhnya semua kebohongan dari pemikiran sesat di tengah umat hanya akan tumbuh subur di wilayah blank spot ini. Orang-orang yang awam dengan Al-Quran dan As-Sunnah serta tidak pernah mendapatkan pendidikan agama yang mendasar sejak kecil, paling rentan terhadap virus ini. Sayangnya, jumlah mereka justru mayoritas dan paling besar.

    Dan memang nyatanya, semua aliran sesat dan menyeleweng itu umumnya paling diminati dan paling gigih diperjuangkan oleh mereka yang tidak punya dasar agama yang baik. Mereka baru saja punya semangat beragama setelah bertemu dengan pemikiran sesat itu. Tentu lewat indoktrinasi sesat yang eksiotik dan eksklusif. Jadilah mereka ibarat kerbau yang dicocok hidungnya, ibarat kuda diberi kaca mata, ibarat katak di bawah tempurung. Mereka tidak bisa melihat kebenaran karena sudah dicekoki oleh seniornya dengan beragam racun pemikiran yang berbahaya.

    Antisipasi

    Maka bila kita tidak ingin gerakan sesat ini setiap hari bermunculan dengan beragam bentuk dan versinya, tidak ada jalan lain kecuali kita meningkatkan kualitas dan kuantitas pengajaran agama Islam secara berkesinambungan. Jangan sampai ada lagi wilayah blank spot di negeri ini.

    Ulama harus disegera dilahirkan dengan jumlah dan kualitas yang berlipat. Baik lewat pengkaderan maupun lewat pengiriman calon ulama ke berbagai universitas Islam berkualitas di berbagai negara Islam. Bahkan untuk mempercepat, para ulama di timur tengah perlu ''diimpor'' kesini dalam jumlah besar, untuk akselerasi pertumbuhan ulama di negeri ini. Penceramah yang tidak bisa bahasa arab dan kurang pelajaran syariah, perlu didorng dan diberi semangat untuk sekolah lagi dengan serius, jangan hanya sibuk ceramah kesana kemari mengejar order pesanan. Mereka harus berpikir untuk meningkatkan mutu dan kematangan ilmu.

    Sekolah Islam, madrasah, pesantren, majelis taklim perlu direvolusi pendiriannya, ditingkatkan kualitasnya, diperluas cakupannya, diperkaya modalnya, dipercanggih sistemnya, diakselerasikan secara serius, profesional dan bertanggung-jawab. Jangan ada lagi pelarangan dan rasa curiga dari kalangan tertentu bahwa pesantren itu sarang teroris. Kecurigaan seperti ini tidak punya tujuan lain kecuali ingin merobohkan agama.

    Semoga Allah SWT menolong kita semua dan selama kita menolong agama-Nya dari kerusakan pemikiran aliran sesat. Amien.

    Wallahu a''lam bishshawab, wassalamu ''alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
    Ahmad Sarwat, Lc.
    Selengkapnya...

    Mengapa Syaitan Dimasukkan ke Dalam Neraka?

    Assalamu''alaikum wr. wb.

    Saya memang kurang mengerti tentang Islam, Pak Ustadz. Mohon bimbingannya. Saya ingin bertanya meskipun sangat simpel. Mengapa syaitan dimasukkan ke dalam neraka. Bukankah syaitan itu juga terbuat dari api. Berarti, syaitan tidak merasakan apa-apa dong? Sebelumnya mohon maaf atas kebodohan saya.

    Wa''alaikum salam wr. wb.
    jawaban

    Assalamu ''alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

    Benar sekali bahwa syetan itu diciptakan dari api. Hal itu memang Allah katakan dengan tegas di dalam Al-Quran.

    Allah berfirman, "Apakah yang menghalangimu untuk bersujud di waktu Aku menyuruhmu?" Menjawab iblis, "Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah".(QS. Al-A''raf: 12)

    Namun setelah diciptakan, syetan itu kemudian menjadi jenis makhluq baru yang bukan lagi sebagai api. Api itu hanyalah bahan baku, tetapi syetan itu sudah bukan lagi api. Maka sifat api yang panas dan membakar itu tetap menjadi siksaan dan azab buat syetan.

    Begitu juga dengan manusia, meski diciptakan dari tanah, bukan berarti manusia itu adalah tanah. Manusia adalah manusia, sebuah jenis makhluq baru dan bukan lagi tanah. Dan manusia sangat mungkin untuk disiksa dengan tanah.

    Kalau dipendam hidup-hidup di dalam tanah, manusia pasti mati. Seperti yang dialami oleh bayi-bayi perempuan di zaman jahilayah di mana mereka dibunuh dengan cara dikubur hidup-hidup.

    Bahkan prosesi hukum rajam itu pada hakikatnya adalah menghabisi nyawa manusia dengan menggunakan batu, di mana batu itu adalah bagian dari tanah.

    Demikian juga dengan syetan, mereka sangat mungkin disiksa dengan api, meski mereka terbuat dari api. Bahkan banyak syetan yang sekarang ini sudah dirajam dengan api. Silahkan baca firman Allah SWT berikut:

    Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang, dan Kami jadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar syaitan, dan Kami sediakan bagi mereka siksa neraka yang menyala-nyala.(QS. Al-Mulk: 5)

    Wallahu a''alm bishshawab, Wassalamu ''alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

    Ahmad Sarwat, Lc.
    Selengkapnya...

    Memagari Rumah

    Ass. Wr. Wb.


    Pak Ustadz, ane pernah dengar kalo ada rumah yang ''dipageri'', jika ada orang yang mencuri di rumah tersebut, pencuri akan jalan keliling rumah tersebut, sampai yang punya rumah tahu lalu membebaskannya dan memberikan ongkos untuk mereka pulang. Apakah ini kerja jin juga, dan bolehkan kita ''mempagari'' rumah kita seperti itu?

    Atas penjelasannya ane ucapkan terima kasih.

    Wass,
    Gathmir
    jawaban

    Assalamu ''alaikum warahmatullahi wabarakatuh

    Cerita memagari rumah itu memang banyak kita dengar. Bukan dipagari dengan tembok atau pagar besi, melainkan dipagari dengan sesuatu yang bersifat ghaib.

    Dan kalau sudah bicara tentang hal-hal yang ghaib, kita mengenal dan mengakui keberadaan dua jenis kekuatan ghaib. Pertama, kekuatan ghaib yang dibenarkan syariah. Dan kedua, kekuatan ghaib yang diharamkan syariah.

    1. Kekuatan Ghaib yang Benar

    Kekuatan ghaib yang dibenarkan syariah punya ciri khas untuk mengenalinya. Yaitu dengan tidak pernah dimiliki sepenuhnya oleh seorang manusia, kecuali para nabi, khususnya nabi Sulaiman alaihissalam. Sebab hanya beliau saja yang diberikan kelebihan untuk menguasai para jin dan jenis makhluq ghaib lainnya.

    Dan untuk Sulaiman angin yang sangat kencang tiupannya yang berhembus dengan perintahnya ke negeri yang kami telah memberkatinya. Dan adalah Kami Maha Mengetahui segala sesuatu. Dan Kami telah tundukkan segolongan syaitan-syaitan yang menyelam untuknya dan mengerjakan pekerjaan selain daripada itu, dan adalah Kami memelihara mereka itu. (QS. Al-Anbiya: 81-82)

    Adapun para nabi lainnya, meski mereka diberikan fasilitas mukjizat dari Allah SWT, tetapi sifatnya bukan sebuah keterampilan yang dimiliki. Melainkan merupakan bentuk pertolongan Allah SWT yang hanya terjadi bila Allah SWT menghendakinya.

    Maksudnya, para nabi alaihimussalam itu tidak punya remote control yang kapan pun diinginkan, bisa mendatangkan mukjizat. Tidak ada tongkat ajaib yang bisa dipakai kapan saja.

    Ketika tongkat nabi Musa as. itu berubah jadi ular besar, tidak ada tombol yang bisa dipencet untuk menampilkan mukjizat itu. Yang terjadi hanyalah Allah SWT menurunkan wahyu dan memerintahkan kepada Nabi Musa as. untuk melemparkan tongkat itu, lalu atas perintah dan izin Allah SWT, tongkat itu tiba-tiba menjadi ular.

    Maka Musa menjatuhkan tongkat-nya, lalu seketika itu juga tongkat itu menjadi ular yang sebenarnya. (QS Al-A''rah: 107)

    Seandainya suatu ketika Nabi Musa as. iseng-iseng melemparkan tongkatnya, sekedar untuk melakukan demo atas mukjizat yang dimilikinya, pastilah tongkat itu tetap tidak berubah. Ini yang kami maksud bahwa ciri mukjizat itu bukanlah sesuatu yang dikuasai atau dimiliki, juga tdak dipelajari secara khusus.

    Dan hal yang sama juga berlaku buat orang-orang beriman yang terkadang Allah SWT membantunya dengan karamah khusus. Kita mengakui adanya karamah yang Allah SWT berikan kepada hamba-hamba-Nya yang dicintai-Nya. Namun hamba-hamba itu tidak pernah merasa memiliki keajaiban dan sesuatu yang melanggar hukum fisika.

    2. Kekuatan Ghaib yang Haram

    Sedangkan kekuatan ghaib yang haram, dimiliki oleh syetan atau jin. Dan dalam rangka memperbanyak jumlah pengikutnya untuk masuk neraka, terkadang kekuatan ghaib itu ''dipinjamkan'' kepada para penyihir dari kalangan manusia.

    Tentu saja bentuk penyihir itu tidak selalu seperti yang ada di film-film, yang pakai jubah hitam, pegang tongkat dan selalu menyebut simsalabim atau alakazam atau abrakadabra.

    Penyiihir itu bisa saja berkostum seorang pak haji, dengan sarung, kopiah, tasbih dan komat-kamit seolah membaca doa dalam bahasa arab. Padahal yang terjadi justru dia sedang meminta pertolongan kepada jin atau syetan. Orang seperti ini pada hakikatnya penyihir, meski kostumnya seperti kiyai. Sebab dia telah meminta bantuan jin dan makhluq ghaib, yang sejak wafatnya Nabi Sulaiman as telah diharamkan.

    Inilah yang telah terjadi, bila penyihir itu berkostum umumnya penyihir, maka banyak orang-orang muslim yang antipati sebelumnya. Akan tetapi iblis itu bukan makhluq bodoh, dia punya 1001 akal busuk untuk melakukan tipu daya.

    Maka dirancanglah sebuah rekayasa licik, di mana pelaku sihir itu adalah orang yang dianggap tokoh agama dengan segala atributnya. Sehingga banyak umat Islam yang terpedaya dan menganggap praktek memagari rumah seperti itu seolah dibenarkan dalam agama. Padahal hakikatnya adalah memagari rumah dengan penjagaan jin. Dan praktek ini sesungguhnya bagian dari syirik yang dilarang dalam syariah.

    Wallahu a''lam bishshawab wassalamu ''alaikum warahmatullahi wabarakatuh Ahmad Sarwat, Lc.
    Selengkapnya...

    Apakah Setelah Taubat Dosa Seorang Hamba Tetap Dipertanggungjawabkan?

    Assalamu''alaikum wr. wb.

    Ustatdz ana mau tanya apakah jika seorang hamba jika melakukan kesalahan setelah dia ber taubat apakah kelak tetap dipertanggungjawabkan? Jazakallah.
    jawaban

    Assalamu ''alaikum warahmatullahi wabarakatuh

    Semua tergantung kepada Allah SWT, apakah menerima dan mengampuni dosa hamba-Nya atau tidak. Sebab meski Allah SWT telah menetapkan bahwa orang yang meminta ampun akan diampuni, namun belum tentu semua orang yang merasa sudah minta ampun itu akan diterima.

    Bukan karena Allah mengingkari apa yang difirmankan-Nya, melainkan karena tata aturan dalam meminta ampun itu belum memenui standar kualifikasi yang telah ditentukan-Nya. Sebab meminta ampun dan taubat itu bukanlah perkara yang ringan. Tetapi punya sekian banyak syarat dan ketentuan. Apabila ketentuan ini terpenuhi, maka Allah SWT adalah Maha Memenuhi janji-Nya.

    Maka jangan dulu merasa aman dari dosa dan ancaman siksa, meski sudah merasa bertaubat. Sebab boleh jadi taubatnya itu belum memenuhi syarat. Tetapi sebaliknya, juga jangan dulu terlanjur putus asa dari kasih sayang Allah SWT. Sebab Dia memang Tuhan Yang Maha Kasih dan Maha Menerima taubat hamba-Nya.

    Sehingga posisi yang benar buat seorang muslim adalah antara khauf dan raja''. Antara takut dan harap. Takut dari azab Allah SWT atas dosa yang pernah dilakukan. Dan berharap kasih sayang Allah kepada hamba-Nya yang berserah diri.

    Di antara taubat yang tidak diterima antara lain adalah:

    1. Taubat yang tidak diiringi rasa sesal di dalam hati

    Orang yang bertaubat, namun di dalam hatinya tidak merasakan rasa sesal atas semua kesalahannya yang telah diperbuatnya, maka Allah SWT pun juga tidak menyesal untuk menolak taubat hamba yang seperti ini.

    Orang yang tobat harus menghilangkan semua kenangan masa lalunya. Jangan diceritakan kepada siapapun juga. Allah yang telah menutupi aib itu semoga juga menutupi dosa-dosa sebelumnya. Dan mulai kehidupan baru yang lebih baik dan lebih Islami.

    2. Taubat yang tidak mencegah dari pengulangan dosa

    Orang yang bertaubat tapi secara sadar dan terus menerus mengulangi dosa dan kesalahannya tanpa ada tekad untuk menghentikannya, tentu tidak akan diterima taubatnya. Sebab pada hakikatnya, dia tidak bertaubat.

    Agar orang yang sudah tobat itu jangan sampai mengulangilagi, salah satunyadengan cara pindah dari suasana dan lingkungan yang selama ini memberikan peluang melakukan itu. Orang yang taubat harus hidup di tengah orang-orang shaleh dan selalu menjaga hukum Allah. Bukan lingkungan yang mendiamkan apabila ada kemungkaran dan kebatilan. Sehingga apapun yang dia lakukan, selalu ada orang-orang yang dengan ikhlas mengingatkan.

    3. Tidak Mendapat Maaf dari Orang Lain

    Khusus untuk dosa yang terkait dengan hak milik orang lain seperti dosa memukul, membuh, menyakiti, mencuri, menipu dan merugikan orang lain, maka perlu permintaan maaf kepada mereka yang telah dizalimi itu.

    Hal ini mengingat bahwa hak orang lain yang telah diambil secara zalim itu masih tetap akan dituntut oleh pemiliknya kelak di akhirat. Bahkan seorang yang mati syahid sekalipun, tetap akan dimintai pertanggung jawaban urusan hutangnya yang belum selesai. Padahal orang yang mati syahid itu masuk surga tanpa dihisab lagi amal-amalnya.

    Taubat yang Benar Akan Menghapus Dosa Sebelumnya

    Bila seseorang bertaubat atas dosa yang pernah dilakukannya dengan taubat yang sesungguhnya serta diiringi dengan minta ampun kepada Allah, penyesalan dan meninggalkan semua dosa-dosa itu, lalu mulai kehidupan yang baru yang jauh dari dosa dan suci dari noda, maka sesungguhnya Allah akan mengampuni dan memasukkan hambanya yang bertaubat itu ke dalam kelompok orang-orang yang shalih.

    Di masa lalu seorang bertanya kepada Ibnu Abbas ra., ”Aku melakukan zina dengan seorang wanita, lalu aku diberikan rizki Allah dengan bertaubat. Setelah itu aku ingin menikahinya, namun orang-orang berkata (sambil menyitir ayat Allah), ”Seorang pezina tidak menikah kecuali dengan pezina juga atau dengan musyrik.” Lalu Ibnu Abbas berkata, ”Ayat itu bukan untuk kasus itu. Nikahilah dia, bila ada dosa maka aku yang menanggungnya.” (HR Ibnu Hibban dan Abu Hatim)

    Ibnu Umar ditanya tentang seorang laki-laki yang berzina dengan seorang wanita, bolehkan setelah itu menikahinya? Ibnu Umar menjawab, ”Ya, bila keduanya bertaubat dan memperbaiki diri.”

    Agar Punya Benteng

    1. Seseorang harus belajar Islam secara serius dan mendalam, baik yang berkaitan dengan aqidah, syariah maupun akhlaq. Sehingga diapaham dan mengerti betul apa itu iman dan Islam sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Rasulullah SAW.
    2. Dia harus memiliki lingkungan pergaulan yang Islami dan baik, di mana di dalamnya selalu ditegakkan amar makruf dan nahi mungkar dan selalu ada taushiyah antara sesama teman.
    3. Dia harus selalu berdakwah dan mengajarkan ajaran Islam itu baik dalam diri Anda, keluarganya dan juga teman-temannya yang lainnya. Sehingga dia tidak hanya menjadi objek dakwah, namun sekaligus juga menjadi pelaku dakwah itu sendiri.
    4. Dia harus selalu memperbaharui keimanannya, karena iman itu kadang berkurang dan kadang bertambah. Caranya adalah dengan beragam kegiatan seperti menambah kajian tentang keimanan, merenungi penciptaan alam semesta, mengambil pelajaran dari orang-orang yang shalih dan seterusnya.

    Wallahu a''lam bishshawab wassalamu ''alaikum warahmatullahi wabarakatuh

    Ahmad Sarwat, Lc.
    Selengkapnya...

    d'famous_125x125 d'famous_125x125
     
    http://www.mail-archive.com/daarut-tauhiid@yahoogroups.com/index.html#08425 http://www.ustsarwat.com/http://rs-free-download.com/http://caslim.wordpress.com/category/bahasa-pascal/

    Komentar Terakhir

    Postingan Terbaru:

    Postingan Terbaru :