Translate :

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
MOHON MAAF PEMILIK BLOG TIDAK BISA MEMBANTU SEPENUHNYA DALAM INFORMASI YANG SAHABAT BUTUHKAN, JIKA ADA ILMU YANG SALAH SOBAT BISA MEMBERI LINK WEB YANG BENARNYA DI BLOG INI, syukron

Tips dan Triks Blog

  • 1>> Pasang Buku Tamu
  • 2>> Pasang Jadwal Sholat
  • 3>> 10 Tips Meningkatkan Traffic Blog
  • 4>> Membuat Label Animasi/Tag Cloud
  • 5>> Tambah Visitor (Pengunjung) Flag
  • 6>> Pasang Widget Translator
  • 7>> Tambah GoogleFriendConnect
  • 8>> Tambah ChatBox
  • 9>> Menambah Gadget Jumlah Pengunjung
  • 10>> Pasang Halaman Facebook
  • 11>> Pasang Banner Pengunjung Online
  • 12>> Mengetahui Jumlah Pengunjung In The World
  • 13>> Menambah GoogleMaps
  • 14>> Memasang Widget Networked Blog
  • 15>> Memasang Yahoo Messenger
  • 16>> Tips SEO mempercepat terdeteksi
  • 17>> Memasang Gadget Visitor Alexa
  • 18>> Memasang Buku Tamu (2)
  • 19>> Memasang Widget Ramalan Cuaca(2)
  • 20>> Menambah Efek-efek asik
  • 21>> Mempercepat Kinerja Blog
  • 22>> Tips Memunculkan Blog Di Search Engine
  • 23>> Menampilkan Blog di Facebook
  • 24>> Pengertian Baclink
  • 25>> Menambah Feedmap
  • 26>> Cara Meningkatkan Pengujung Blog
  • 27>> Tiga Cara Verifikasi Paypal
  • 28>> Membuat Banner Animasi
  • 29>> Membuat Refresh di Blog
  • 30>> Membuat FansPage Facebook
  • 31>> Cara Daftar Paypal (Free) Gratis
  • 32>> Verifikasi Paypal
  • 33>> Pasang Kabar Berita (News)
  • 34>> Pasang Buku Tamu Tersembunyi+Widget
  • 35>> Cara Cek Kecepatan Website-mu
  • 36>> Cara Cek Kecepatan Loading Website-mu (2)
  • 37>> Cara Membuat Efek Marquee(teks&gambar berjalan)
  • 38>> Apakah Social Bookmark
  • 39>> Membuat Banner Fans by bannerfans.com (2)
  • 40>> Hubungkan Web-mu dengan Messenger Pingbox(2)
  • 41>> Membuat Tombol Hide-Show gadget
  • 42>> Membuat Widget Related Post Thumbnail pada Blog
  • 43>> Fungsi dari SiteMeter/Counter
  • 44>> Cobalah AutoBacklink yang satu ini
  • 45>> Pasang Related Post (Postingan terakhir)
  • 46>> Memasang form post berlangganan via e-mail
  • 47>> Membuat Artikel Terkait
  • 48>> Pasang Statistik Pengunjung Online by Widgeo
  • 49>> 10 Tempat Nongkrong blogger/WP
  • 50>> Apakah Sosial Bookmarking itu?
  • 51>> Pilihan Kode Warna HTML
  • 52>> Menampilkan IP Address Pengunjung Web
  • 53>> Verifikasi Paypal Free
  • 54>> Waspadai E-mail Palsu Paypal
  • 55>> Membuat Tab View Dengan Jquery
  • 56>> SMS Gratis via Facebook.com
  • 57>> Membuat Dropcap di Postingan
  • 58>> Membuat Navigasi Breadcrumb
  • 59>> AUTO BACKLINK Top Margotop
  • 60>> Berapakah Harga Blog Sahabat?
  • 61>> Ada 6 Alasan Traffic Blog Menurun
  • 62>> Ada 324 Backlink in Minuteupdate
  • 63>> Daftarkan Web Sahabat di Engginer ini
  • 64>> Membuat Label Sphere/Label Animasi
  • 65>> Google Dynamic Feed
  • 66>> Link Otomatis Baik tidak ?
  • Home » » PREMIUM VS PERTAMAX

    PREMIUM VS PERTAMAX

    Sudah Dilihat : Kali
    Dalam setahun, mobil yang biasa pakai pertamax bisa hemat Rp 5 juta bila minum premium.Kami buat tes simulasi Nissan Serena dengan jarak tempuh 1.000 km, untuk mengetahui pengaruhnya pada mesin, akselerasi, tenaga dan torsi...

    Daripada menulis bagaimana menyetir efisien untuk menghemat bensin, kami mencoba membuat simulasi Nissan Serena standar berspek Pertamax untuk meminum Premium. Mobil ini dites sejauh 1.000 km, dicatat selisih konsumsi bahan bakarnya. Waktu minum Premium konsumsinya berapa, waktu Pertamax berapa. Lalu dicatat juga perbedaan horse power dan torsi dengan pengetesan di mesin Dyno.

    Metode Pengujian

    Sebagai kelinci uji, kami memanfaatkan Nissan Serena dengan jarak tempuh odometer telah mencapai 12.500 km. Detail spek, oktan minimal 91 unleaded. Mesin 1.998 cc Serena menghasilkan 147 dk dan 198 Nm, masing-masing pada, putaran 6.000 dan 4.000 rpm. Penghasil daya berlangkah 89,0 x 83,0 mm itu, punya rasio kompresi lumayan tinggi (9,9:1). MPV ini kami pilih karena figur spesifikasi teknisnya mewakili mayorita tunggangan berspek Pertamax, yang banyak lalu-lalang sebagai tunggangan harian.

    Sebagai permulaan, tangki bensin dikuras dan dilakukin servis rutin (tune-up) sesuai standar. Lantas, setelah tangki kosong, pengujian pertama meliputi penggunaan BBM premium. Serena pun diharuskan melaju sejauh 500 km. Metode pengisian bensin, kami pilih pom bensin secara random sampling (acak). Bertujuan menyesuaikan kemungkinan Anda mengisi bensin dimana saja, dalam/luar kota, berkualitas buruk/baik. Selama memakai premium, kami adakan dynotest.

    Langkah kedua, kami kembali melakukan servis rutin (tune-up) sesuai standar resmi. Lantas, menguras dan mengosongkan tangki. Isi dengan Pertamax. Kemudian dilajukan sejauh 500 km, seperti tes dengan Premium. Metode pengisian bensin pun, tetap menganut random sampling. Karena kualitas bahan bakar pada setiap SPBU pasti berbeda

    Selama masing-masing 500 km pengujian (BBM premium dan pertamax), kendaraan dilajukan melalui berbagai rute dan kondisi; dalam kota, luar kota dan jalan bebas hambatan (tol). Baik dalam kondisi lalu-lintas macet maupun lancar. Jam operasional juga tak dibatasi, antara pukul 06.00-02.00

    Kombinasi lainnya adalah, suhu panas dan dingin (hujan). Jarak luar kota setiap akhir pekan, mencapai Bogor dan Puncak (Cisarua), Jawa Barat. Soal rentang kecepatan, Serena melaju dengan berbagai kondisi pengemudian apa adanya. Kadang stop ang go, hingga 160-an kpj di jalan bebas hambatan. Intinya, kami mencoba merangkum berbagai aktivitas Anda mengemudi selama 1.000 km.

    Dyno Testing
    Di antara jeda pengujian 500 km (premium) dan 500 km (pertamax), kami melakukan dynotest. Ini untuk menghimpun data kondisi mesin selengkap mungkin. Hasil yang diperoleh berdasarkan putaran poros roda, sensor suhu mesin dan gas analzser. Kami mendapat data; mulai daya maksimal, torsi maksimal, hingga rasio bahan bakar dan udara (AFR - Air:Fuel Ratio). Berdasarkan hasil uji dyno itu, kami bisa menyimpulkan berbagai kondisi.

    Kondisi saat pengujian pun, kami sesuaikan hingga serupa. Dengan ambient temperatur rata-rata 60 derajat Celcius, tekanan angin ban 30 psi, isi tangki bahan bakar 1/4, pada pukul 15.00 dengan cuaca cerah. Transmisi matiknya, kami operasikan tanpa fitur Overdrive.

    1st 500 Km (premium)
    Test Period 5 days
    Terasa sedikit penurunan kinerja, walau tidak sampai terjadi gejala ngelitik. Utamanya saat harus dilajukan melalui lintasan menanjak berkelok (Puncak, Jawa Barat). Kombinasi konsumsi bahan bakar mcncapai 7 km/liter, dengan total kebutuhan mencapai 71,4 liter untuk jarak 500 km.

    Saat kabin terisi penuh pun, gejala ngelitik tidak terjadi. Satu-satunya hal paling terasa, tanpa memperhitungkan alat ukur kinerja mesin - adalah menurunnya performa, walau tak terlalu signifikan.
    Hasil dynotest memperlihatkan perolehan power maksimal 96,9 dk (129.2 dk dengan faktor reduksi mesin dyno 25%). Torsi tercatat besaran maksimal 109 Nm (145 Nm dengan faktor reduksi mesin dyno 25%).

    Ini menjelaskan terjadinya degradasi performa, walau tidak sampai menimbulkan detonasi. Hal lain yang tercatat adalah AFR rata-rata pada putaran daily cruising (1.500 - 4.500 rpm), sebesar 13,1. Sementara kondisi ideal (pembakaran optimal dan konsumsi bahan bakar hemat) AFR adalah 13,0 hingga 14,7. Kondisi di bawah 13,0 terhitung boros. Kondisi 14,7 irit tapi minus tenaga.

    Kesimpulannya, AFR 13.1 menjelaskan kondisi diambang batas. Terhitung tidak boros, tapi berada di bawah spek standar pertamax. Tak aneh, konsumsinya lebih boros atau mencapai 7 km/liter.

    2nd 500 Km (Pertamax)
    Tes Period 5 Days
    Uji dengan Pertamax sengaja kami lakuka n belakangan. Alasannya, secara perkiraan tenaga Pertamax lebih baik. Dan orang lebih mudah beradaptasi dengan pertambahan tenaga ketimbang penurunan tertaga.

    Hasilnya, performa Pertamax memang terasa lebih baik. Walau harus mengeluarkan uang lebih banyak saat mengisi penuh tangki (lihat boks perbedaan konsumsi total Premium dan Pertamax). Tidak lagi bermasalah saat harus mcngarungi jalan berkelok yang menanjak, bahkan ketika muatan terisi penuh. Konsumsi bensin pun membaik, tercatat hanya membutuhkan 58,8 liter untuk pengapian sejauh 500 km. Mengartikan konsumsi lebih hernat, 8,5 km/liter.
    Ketika uji dyno, hasil angka-angkanya beda total. Daya maksimal tercatat mencapai 108,6 dk (143,7 dk dengan faktor reduksi mesin dyno 25%). Torsi mencapai 123 Nm (164 Nm).

    Memang, tak sarnpai menyamai klaim pabrikan (147 dk dan 198 Nm). Namun, itu bukan karena kesalahan pengujian. Melainkan akibat faktor pengujian dyno yang mencatat besaran pada roda (on-wheel), bukan hitungan tenaga di flywheel seperti umumnya klaim versi pabrikan Jepang. Selain itu, reduksi yang terjadi akibat jarak total yang telah ditempuh Serena (13.500 km setelah dua kali pengujian kami).

    AFR didapat pada kisaran 13,9. Menjelaskan kondisi konsumsi bahan bakar dengan pertamax lebih hemat, ketimbang premium.
    Namun, ada hal unik seputar grafik pengujian dyno. Dengan premium, kurva yang dihasilkan lebih smooth. Artinya, tidak ada gejala power loss (lag). Sementara, saat mcnggunakan pertamax, kurva menunjukkan adanya power loss (lag) pada putaran 3.750 - 4.500 rpm. Tapi saat dikemudikan, tidak terasa signifikan. Ini menunjukkan adanya non-optimized pada ruang bakar. Kemungkinan terbesar, diakibatkan daya rambat panas pertamax lebih lambat. Terkait bahwa, semakin tinggi oktan, kian lambat daya rambat panasnya.

    Premium Lebih Boros
    Konsumsi premium lebih boros, disebabkan penurunan daya dan torsi akibat knock sensor retard. Ini terjadi karena knocking sensor bekerja dan memundurkan timing secara otomatis, begitu pula pengapian. Terkait spesifikasi mesin Serena yang mensyaratkan oktan minimal 90/91. Jika diterjemahkan, pengemudi akan merasakan kurangnya tenaga mesin, akan menginjak pedal gas lebih dalam dengan jangka waktu lebih lama. Hal ini menyebabkan konsumsi bahan bakar lebih boros.
    Memperkuat alasan tersebut, kurva pengujian dyno pun menunjukkan penurunan





    Sumber Informasi : Majalah TopGear Edisi 2005 / Hal : 80

    Sumber lainnya :


    Pertamax Vs Premium: Pilih Sesuai Kompresi


    Harga Pertamax dan Pertamax Plus melangit. Bagaimana pengguna motor Pertamax, khususnya Satria F150? Perlu nggak ya... ‘turun derajat’ nenggak Premium? Apa sih kelebihan dan kekurangannya?

    Turun pangkat pakai Premium, tenaga pasti berkurang. Wajar, angka oktan keduanya beda. Pertamax dipatok 92-95. Sedang Premium di angka 82. Angka oktan menyatakan kandungan molekul iso oktan di bensin. Molekul ini yang menahan terjadinya ngelitik atau detonasi. Sehingga makin tinggi oktan, kuat terhadap kompresi tinggi. “Kompresi berbanding lurus dengan angka oktan. Kompresi wajib diimbangi oktan tinggi,” jelas Colin Latung, konsultan perminyakan dari URS Indonesia. Kesesuaian angka oktan dengan kompresi akan memperkecil kemungkinan terjadi gejala nggelitik (lihat tabel). “Kalau tetap memaksakan motor dengan kompresi tinggi menggunakan oktan rendah, piston akan jebol. Biaya yang dikeluarkan akan jauh lebih besar,” jelas alumnus Lancaster University, Inggris ini.

    Artinya, mengubah penggunaan Premium tergantung kompresi motor. Dalam kondisi estede, lihat saja spesifikasi teknis kendaraan yang dibikin pabrikan. Motor 4-tak lokal umumnya punya kompresi kisaran antara 9:1 sampai 9,3:1. Bahkan, motor 4-tak impor seperti Suzuki Satria F150 berkompresi 10,2:1. “Kalau ingin tidak mengalami detonasi, turunkan kompresi. Ganjal head silinder dengan paking yang lebih tebal,” tambah pria beralamat di Jl. Dr. Kusumaatmaja, Jakarta Selatan.

    Konsekuensinya, tenaga motor akan melorot. Menurut Colin, tidak masalah. “Ini untuk penggunaan harian bukan balap,” tambahnya.
    Tapi, bagaimana dengan mengoplos aditif octane booster. “Penambahan itu tidak signifikan. Sebab, kandungan kimia octane seperti Metil Cyclo Pentan Dienyl Manganis Tricarbonil (MMT) tidak akan besar mendongkrak angka oktan,” ungkap Colin.
    Bagaimana dengan motor 2-tak. Umumnya, perbandingan kompresi lebih rendah. Jadi, pindah pemakaian Pertamax ke Premium nggak masalah. Kebutuhan motor 2-tak terhadap kriteria bahan bakar dianjurkan menggunakan Premium. Misal, kompresi Kawasaki Ninja-RR 7,2:1. Data Premium beroktan 82-92. “Cukup menyuplai kebutuhan motor berkompresi 7:1-9:1,” jelas Freddyanto Basuki, assistant manager service division, PT Kawasaki Motor Indonesia.
    Memang, penggunaan Premium perlu diwaspadai. Soalnya, bahan bakar itu belum
    bebas timbel (luar Jabotabek).

    OKTAN INDONESIA LEBIH RENDAH
    Angka oktan bensin yang beredar di Indonesia menurut Colin Latung lebih rendah dibanding dengan sejenis di negara lain. Sebab, kita menganut Research Octane Number (RON). Sedangkan di negara lain, misal, Malaysia menganut Pump Octane Number (POM). “Angka POM didapat dari penjumlahan RON dan MON (Motor Octane Number). Hasilnya dibagi dua,” jelas Colin.
    Dengan demikian, kalau angka RON Pertamax dikonversikan ke POM sudah pasti angkanya turun. “Jadi kualitas bahan bakar kita memang tidak baik,” tambah Colin.
    Kurtubi, pengamat bahan bakar yang juga bekerja di PT Pertamina ngasih solusi. Kompetisi penyuplai bahan bakar minyak harus dibuka. “Pemerintah harus membuka keran pemain baru. Di sisi lain, rakyat harus tetap dilindungi. Harga tidak diserahkan ke pasar, tapi ditentukan oleh pemerintah,” jelas Staf Pengajar Pascasarjana Fakultas Ekonomi Universitas Indonsia ini.

    TES PREMIUM DAN PERTAMAX
    Rasio kompresi motor, sangat menentukan dalam pemilihan bahan bakar. Em-Plus coba ngetes motor kompresi tinggi diberi perlakuan beda. Seperti Suzuki Satria F150 kompresinya 10,2 : 1. Pertama tes diisi Pertamax. Kemudian digeber keliling Jakarta pas jam macet. Dari pukul 15:50-16:30.
    Kondisi berboncengan. Pengendara 70 kg dan boncenger 60 kg. Hasilnya mencapai jarak tempuh 64 km. Menghabiskan Pertamax 2.100 cc, atau 2 liter lebih 100 cc. Berarti bisa dicari pemakaian BBM-nya. Sekitar 30,5 km/liter.
    Perlakuan kedua diisi Premium. Tentu setelah tangki dikuras. Dites sendirian alias tanpa boncenger. Berat pengendara 65 kg. Dites di Jakarta sekitar jam 10 pagi

    Kesimpulanya, Pertamax lebih irit meski dengan beban berat. Sebab tidak ada detonasi dan menghasilkan tenaga gede. Beda dengan pakai Premium. Gas harus dipelintir abis mulu. Sehingga boros.

    Perbandingan Angka Oktan dan Kompresi
    Pertamax Plus
    Oktan= 95
    Kompresi= 10:1 - 11:1
    Pertamax
    Oktan= 92
    Kompresi= 9:1 - 10:1
    Premium
    Oktan= 82
    Kompresi= 7:1 - 9:1

    Sumber: Tabloid Motorplus
    Reporter : Niko, Cuenk, Hend, Aong
    Fotografer : Endro Suryono, Dokumentasi Motorplus

    http://bfrconline.co.cc/v1/news.php?extend.8

    Artikel yang berkaitan



    0 komentar:

    Poskan Komentar

    Diharapkan Berkomentar pada hal-hal yang positif, bernilai manfaat, no spam

    d'famous_125x125 d'famous_125x125
     
    http://www.mail-archive.com/daarut-tauhiid@yahoogroups.com/index.html#08425 http://www.ustsarwat.com/http://rs-free-download.com/http://caslim.wordpress.com/category/bahasa-pascal/

    Komentar Terakhir

    Postingan Terbaru:

    Postingan Terbaru :